Berita Kendal

Begini Warga Kendal Laksanakan Tradisi Lebaran Ketupat, Tak Sekadar Makan Bersama

Takmir Musala Baitul Muslimin Brangsong Kendal, Faizin mengatakan, Lebaran ketupat digelar sebagai tanda selesainya puasa syawal selama 6 hari.

Penulis: Saiful Ma'sum | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/SAIFUL MA'SUM
Warga Brangsong, Kabupaten Kendal melestarikan tradisi Lebaran ketupat dengan sarapan bersama di musala, Senin (9/5/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Lebaran ketupat menjadi sebuah tradisi yang biasa diperingati setiap 8 Syawal.

Sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi Lebaran ketupat dengan sarapan bersama di musala maupun masjid.

Di Kabupaten Kendal, tradisi sederhana ini masih banyak ditemukan di beberapa wilayah.

Seperti di Kecamatan Brangsong dan Kaliwungu.

Baca juga: Romiyatun Berburu Nasi Bungkus di Tradisi Syawalan Ala Takmir Masjid Agung Kendal

Baca juga: Seluruh Satuan Pendidikan di Kendal Terapkan PTM 100 Persen, Disdikbud Batasi 6 Jam Pelajaran

Baca juga: Bupati Kendal Dico Minta OPD Genjot Serapan Anggaran

Baca juga: Pemkab Kendal Sudah Bolehkan Syawalan di Komplek Pemakaman Bukit Jabal Kaliwungu

Masyarakat berbondong-bondong membawa sejumlah makanan ke musala atau masjid terdekat sejak pagi buta.

Biasanya, makanan tersebut dibawa selepas salat Subuh sebagai santapan sarapan bersama-sama.

Sebelumnya, didahului dengan doa bersama dan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Tradisi ini meramaikan kembali Lebaran Idulfitri 1 Syawal.

Pada umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki, namun di sebagian tempat juga diikuti kaum perempuan.

Biasanya, warga membawa olahan masakan berupa ketupat sayur maupun lontong opor.

Takmir Musala Baitul Muslimin Brangsong Kendal, Faizin mengatakan, Lebaran ketupat diselenggarakan sebagai tanda selesainya puasa syawal selama 6 hari.

Sebagaimana anjuran Nabi Muhammad SAW untuk berpuasa sunnah pada bulan Syawal.

Selain itu, Lebaran ketupat ini bertepatan dengan meninggalnya imam besar Masjid Kaliwungu, yakni Kiai Asyari atau yang biasa disebut Kiai Guru.

Sehingga warga Kaliwungu biasanya menyisipkan doa yang dikhususkan kepada almarhum Kiai Guru.

"Tradisi Lebaran ketupat ini merupakan bentuk kebersamaan dan rasa syukur kepada Allah," terangnya kepada Tribunjateng.com, Senin (9/5/2022).

Dia berharap, tradisi ini tetap dilestarikan secara baik untuk menambah keakraban warga. (*)

Baca juga: 1.085 Nakes Masih Berstatus Non ASN di Batang, Wihaji: Secara Bertahap Jadi PPPK

Baca juga: Begini Cara Askab PSSI Pati Membina Pemain Usia Dini, Pendaftaran Kompetisi Sudah Dibuka

Baca juga: Arus Balik Lebaran Melalui Jalur Udara Masih Terjadi, Ini Kata SRM Bandara Ahmad Yani Semarang

Baca juga: Hari Pertama Bekerja, Pemkab Demak Gelar Halal bihalal

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved