Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kerusuhan Berdarah Lengserkan Klan Paling Berkuasa di Sri Lanka

pertumpahan darah terjadi di Sri Lanka pada Senin (9/5), menyusul gelombang demonstrasi yang menuntut PM Mahinda Rajapaksa mundur dari jabatannya.

Editor: Vito
AFP
Personel paramiliter dan polisi menghalangi demonstran dan pendukung pemerintah yang bentrok di luar kantor Presiden di Kolombo, Sri Lanka, Senin (9/5). 

TRIBUNJATENG.COM, KOLOMBO - Krisis ekonomi berkepanjangan di Sri Lanka berbuntut kejatuhan dramatis klan paling berkuasa di negeri itu, menyusul pertumpahan darah yang terjadi pada Senin (9/5).

Sepanjang Senin (9/5) malam, tentara bersenjata lengkap berusaha menghalau gelombang demonstran yang berulangkali berusaha merangsek masuk ke dalam kediaman Perdana  Menteri (PM) Mahinda Rajapaksa, yang disebut Temple Trees di Kolombo, Sri Lanka.

Saat itu, perdana menteri sedang berada di dalam rumah, sehingga harus dievakuasi. Buntutnya, pada Selasa (10/5), Presiden Gotabaya Rajapaksa memberikan kewenangan darurat kepada militer dan kepolisian.

Menurut aturan tersebut, aparat berhak menahan orang tanpa dakwaan selama 24 jam, melakukan penggerebekan paksa terhadap kediaman tersangka, termasuk menyita kendaraan pribadi.

Amarah warga sempat membeludak, yang memaksa PM Mahindra harus mengundurkan diri, akibat pertumpahan darah sepanjang Senin kemarin. 

Perdana menteri pun telah menyatakan mengundurkan diri. Sayangnya, mundurnya Rajapaksa dari jabatan gagal meredakan kemarahan demonstran.

Eskalasi ikut dipicu serangan massa pendukung partai pemerintah terhadap demonstran yang bermukim di depan kediaman perdana menteri.

Hasilnya, kader Partai Fron Rakyat Sri Lanka (SLPP) dijadikan sasaran serangan balas dendam di penjuru negeri. Demonstran dilaporkan membakar 70 rumah dan kantor milik bekas menteri atau pejabat lain, ditambah 150 kendaraan bermotor.

Pada hari yang sama, anggota legislatif dari SLPP, Amarakeerthi Athukorale, dikabarkan tewas di Nittambuwa, setelah iring-iringan kendaraannya menjadi sasaran amukan massa. Ia dan pengawalnya sempat melepaskan tembakan ke arah demonstran, sebelum melarikan diri ke dalam sebuah gedung.

Jenazah Athukorale yang dipenuhi luka baru bisa diungsikan beberapa jam kemudian, kata kepolisian Sri Lanka. Setidaknya tiga orang demonstran mengalami luka tembak.

Sementara di Weeraketiya, kampung halaman dinasti Rajapaksa, sekelompok massa berusaha membakar kediaman seorang politisi lokal. Usaha mereka digagalkan kepolisian yang menembak mati dua orang.

Secara keseluruhan, sebanyak tujuh orang dikabarkan tewas dalam kerusuhan sepanjang Senin, sementara 200 orang lainnya mengalami luka-luka.

Adapun, Presiden Gotabaya Rajapaksa bersikeras tidak mau mengundurkan diri. Parlemen membutuhkan proses politik yang pajang jika ingin memakzulkannya.

Sementara, pengunduran diri perdana menteri secara otomatis membubarkan kabinet pemerintah.

"Perdana menteri harus mengundurkan diri dengan tidak hormat setelah pendukungnya melancarkan gelombang kekerasan Senin kemarin," kata Jayadeva Uyangoda, pengamat politik di Kolombo.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved