Berita Demak
95 Persen Desa di Pesisir Demak Tenggelam
Hampir 95 persen desa pesisir di Kabupaten Demak tenggelam akibat dampak dari pembangunan jalan tol Semarang-Demak
Penulis: hermawan Endra | Editor: muslimah
Manfaat dan jasa ekosistem yang diberikan mangrove secara global, nasional dan lokal terlalu besar jika dibandingkan dengan luasan dan distribusi geografisnya.
Ekosistem pesisir ini telah lama dikenal memberikan banyak manfaat dalam penyediaan pangan dan sumber mata pencaharian bagi masyarakat lokal.Mangrove juga berperan dalam pencegahan abrasi, banjir, pencemaran dan pengaruh buruk gelombang laut.
Dengan cadangan karbon sebesar 3-5 kali lebih banyak daripada hutan dataran rendah, ekosistem unik di kawasan pasang-surut ini memiliki potensi besar dalam mengatur iklim global, termasuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta menjaga keanekaragaman hayati.
Indonesia menjadi rumah bagi hampir seperempat mangrove dunia (3,3 juta ha), yang akan sangat diuntungkan apabila ekosistem asli ini terjaga.
Mangrove di Indonesia berpotensi mencegah emisi sebanyak hampir 30 persen dari total emisi nasional dan dapat menjadi solusi dalam adaptasi perubahan iklim, khususnya akibat kenaikan muka laut.
Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan kerugian ekonomi per tahun akibat bencana perubahan iklim di Indonesia adalah 6,7 persen PDB, sedangkan biaya rata-rata mengurangi dampak kenaikan muka laut (termasuk melalui restorasi mangrove yang rusak) hanya 0,3 persen PDB.
Kerusakan mangrove di Indonesia akibat alih guna lahan yang diawali dengan deforestasi menjadi tambak, lahan pertanian/perkebunan, dan pemukiman dalam 50 tahun terakhir hanya meninggalkan separuh mangrove yang ada saat ini.
Jika laju kerusakan ini tidak dicegah atau dihambat, besar kemungkinan hanya dalam waktu 30 tahun mangrove Indonesia sudah habis.
Selama ini Indonesia hanya memiliki sebuah kerangka regulasi yang berfokus pada pengelolaan mangrove yang berkelanjutan (Perpres No. 73 tahun 2012). Itu pun telah dihapus pada tahun 2020.
Akibatnya, kelembagaan yang dibentuk berdasarkan peraturan tersebut menjadi terbengkalai. Namun demikian investasi dan pengetahuan yang telah dihasilkan harus dimanfaatkan untuk memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat lokal.
Beberapa masalah yang dijumpai di pesisir Jawa, diantaranya adalah Banten, Demak dan Banyuwangi adalah terjadinya abrasi dan banjir rob. Masalah tersebut membuat kerugian bagi masyarakat pesisir dalam bentuk materiil maupun moril.
Pada kejadian lain, fungsi pengawasan masyarakat dan pemerintah untuk kawasan ekosistem mangrove masih belum optimal.
Sebagai contoh, yaitu status tanah timbul yang merupakan sebagian daratan, terbentuk karena adanya peristiwa alam, daratan yang timbul tersebut memiliki potensi dan nilai ekonomis yang dapat dimanfaatkan, namun masih terjadi ketidak jelasan kepemilikan lahan yang tanah tersebut. Akibatnya, muncul masalah sulitnya menemukan lahan penanaman sebagai bentuk mitigasi bencana.
Kesulitan lahan juga akan berimbas pada berkurangnya pemanfaatan mangrove yang dapat menjadi alternatif mata pencaharian bagi masyarakat lokal.
Perlunya sistem pengelolaan yang optimal untuk kawasan mangrove dengan didukung oleh daya dan kapasitas yang mumpuni dari pemangku kepentingan