Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Harga BBM Naik, Apindo Jateng: Kita Harus Kerja Efisien Supaya Bisa Bertahan

Pemerintah telah resmi menaikkan harga BBM, di antaranya adalah BBM subsidi pertalite yang sebelumnya Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
Dok. Proses produksi di dalam pabrik. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemerintah telah resmi menaikkan harga BBM, di antaranya adalah BBM subsidi pertalite yang sebelumnya Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter dan solar dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Jawa Tengah Frans Kongi menyebutkan, kenaikan harga yang telah menjadi keputusan pemerintah ini sudah tentu akan memberikan dampak pada industri.

"Sudah tentu ada dampak pada industri, meskipun kami di industri tidak pakai lagi BBM. Kami pakai batu bara, gas.

Tapi apapun, ada dampaknya bagi kami karena bisa saja batu bara pengolahannya pakai peralatan yang memanfaatkan solar, sehingga mungkin ada kenaikan sedikit," kata Frans saat dihubungi tribunjateng.com, Selasa (6/9/2022).

Menurut Frans, meski juga tidak secara langsung, dampak tersebut akan turut memicu kenaikan harga produk yang dihasilkan pabrik.

Dia mengatakan, kenaikan harga BBM tidak dipungkiri akan menimbulkan efek domino.

Kenaikan harga pokok produksi (HPP) akan berakibat pada harga produk yang dihasilkan sehingga di tingkat konsumen dimungkinkan akan mengalami kenaikan.

Dia memperkirakan, dengan kenaikan harga BBM tersebut, harga pokok juga akan mengalami kenaikan mencapai 8 persen.

"Kita bicara kenaikan, harga pokok akan naik 5-8 persen. Tapi itu juga dilihat dari kemampuan pasar. Kalau pasar tidak mampu, ya tidak mungkin kita naikkan harga," ujarnya.

Sementara itu, dia mengungkapkan, pihaknya sendiri juga akan berupaya agar kenaikan harga produk tidak terjadi secara signifikan..

"Kita memang ada pengaruhnya juga. Kita harus kerja lebih efisien supaya kita bisa bertahan," ungkapnya.

Ia menyebutkan, pihaknya berupaya memastikan bahwa proses produksi tetap berjalan normal.

Ia meminta agar buruh tidak khawatir terkait pengurangan karyawan sebagai efek kenaikan BBM.

"Kami akan berjalan normal dan buruh tidak usah khawatir karena mereka ada bantuan langsung tunai (BLT) sehingga ini akan membantu daya beli mereka," ungkapnya.

Di sisi lain, kepada pemerintah dirinya meminta agar segera melakukan mitigasi agar efek yang ditimbulkan dari kenaikan BBM tidak besar.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved