Berita Kajen

Tarif Angkot di Kabupaten Pekalongan Belum Naik, Ini Ketua Organda

Pasca kenaikan harga BBM, tarif angkutan kota di wilayah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah belum naik.

indra Dwi Purnomo
Sopir angkutan kota yang ada di wilayah Kabupaten Pekalongan mendapatkan bansos sembako dari Polres Pekalongan. 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Pasca kenaikan harga BBM, tarif angkutan kota di wilayah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah belum naik.

Dalam waktu dekat, Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Pekalongan akan berkoordinasi dengan dinas perhubungan untuk membahas masalah tersebut.

"Insya Allah satu atau dua hari ke depan kita akan bertemu dengan dinas perhubungan membahas tarif pasca kenaikan harga BBM. Mudah-mudahan semuanya lancar,'' kata Slamet Sutrisno Ketua Organda Kabupaten Pekalongan, Jumat (9/9/2022).

Menurutnya, ada dampak adanya kenaikan BBM di antaranya kebutuhan pokok masyarakat juga ikut-ikutan naik.

"Maka dari itu, saya mohon dengan pemerintah agar kami bisa itung-itungan harga untuk tarif angkot."

"Sebab, angkot ini merupakan angkutan ekonomi dan yang menentukan naik atau tidaknya tarif itu dari pemerintah," ujarnya.

Apabila kesepakatan harga atau tarif penumpang angkota sudah ditentukan, maka ia meminta bantuan kepada pemerintah untuk tidak mempersulit supir angkutan yang akan membeli bensin.

Dalam hal ini, ketika mereka membutuhkan bahan bakar yang memang sangat utama untuk kendaraanya, jangan sampai ada kelangkaan.

"Kita sudah menuruti aturan untuk kenaikan tarif penumpang, namun sekali lagi kami minta tolong BBM jangan ada kelangkaan," imbuhnya.

Saat disinggung mengenai apabila ada kenaikan tarif angkutan, berapa kira-kira kenaikan tarif angkot yang diinginkan?

Menurut Slamet, melihat kenaikan harga BBM cukup tinggi, paling tidak untuk tarif akan naik sekitar 20 hingga 30 persen dari tarif sebelumnya.

"Selama ini, angkutan kota merupakan penyuibsidi terbesar ketika berbicara pengguna angkot. Sebab, ketika penumpangnya merupakan PNS atau anak sekolah, tarif yang dikenakan tidak sesuai atau sebesar tarif sesungguhnya sehingga meski tarif dinaikkan namun tidak begitu kentara," ujarnya.

Sementara itu, Dodi (46) supir angkot mengakui kenaikan harga BBM membuat ia dan rekan-rekan supir lainnya menjadi kelabakan.

Sebab tarif penumpang belum ditentukan, sedangkan untuk biaya operasional sudah semakin tinggi. 

"Penumpang tahu kalau BBM sudah naik. Tapi ada juga penumpang yang menambahi karena kasihan karena kita belum menaikkan tarif," katanya. (Dro)

Baca juga: Eks Hakim Agung Sebut Ada Gelagat Melemahkan Dakwaan Sambo, Benarkah?

Baca juga: Hasil Babak II Skor 3-1 PSIS Semarang Vs Persikabo Liga 1 2022, Riyan Ardiansyah Cetak Hattrick

Baca juga: Opini Aji Sofanudin : Generasi Kahira Ummat

Baca juga: Fokus : Menggerakkan Bisnis Anak Muda

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved