Berita Kudus
Cerita Genta Angkat 21 Tema Kearifan Lokal Kudus Melalui Batik
Saat ini Batik Gentamas Kudussudah mengemas 21 tema batik kearifan lokal, dengan maksud agar Kabupaten Kudus dikenal luas kearifan lokalnya.
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Pelaku UMKM menjadi satu sektor yang bisa diandalkan untuk mendongkrak perekonomian daerah.
Utamanya UMKM yang mengangkat produk-produk lokal khas daerah masing-masing.
Di Kabupaten Kudus, sektor kuliner, fashion, hingga industri banyak diganderungi masyarakat.
Di bidang fashion, saat ini telah lahir berbagai pelaku usaha di dalamnya.
Baca juga: Pedagang Pasar Bitingan Kudus Keluhkan Kenaikan Harga BBM
Di antaranya adalah produk Batik Gentamas Kudus yang beromzet puluhan juta Rupiah per bulan dan dikenal hingga Kalimantan.
Owner Batik Gentamas Kudus, Dasa Genta Wati (46) mengatakan, sudah hampir dua tahun dia menekuni dunia perbatikan, mulai dari batik tulis, cap, shibori, printing, dan terbaru eco-print.
Ratusan produk sudah dihasilkan dibantu oleh empat karyawan.
Siapa sangka, produk-produk yang dihasilkan Gentamas Kudus sudah tembus ke beberapa kabupaten/kota.
Kini, omzet usaha yang ditekuni Dasa Genta mencapai Rp 45 juta perbulan.
"Selama pandemi Covid-19, para pelaku UMKM tidak ada pergerakan, susah kalau hanya mengandalkan pemasaran online."
"Tahun ini jadi momentum kebangkitan pelaku usaha kecil," terangnya kepada Tribunjateng.com, saat ditemui di stand Pasar Rakyat Kudus, Jumat (23/9/2022).
Dasa Genta mengatakan, kekuatan produk-produknya bertumpu dengan mengangkat kearifan lokal khas daerah di Kabupaten Kudus.
Baca juga: Hari Jadi Kabupaten Kudus, Bupati Hartopo Ziarah Makam Bupati Pendahulu
Baca juga: Momentum Hari Jadi Kudus, Bupati Optimistis Kudus Mampu Bangkit Berdaya Guna
Misalnya, motif batik khas Dukuh Kancilan, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, motif Air Terjun Kedung Gender, Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, motif parijoto, tari kretek, dan beberapa kearifan lokal lainnya.
Dia menyebut, saat ini sudah mengemas 21 tema batik kearifan lokal, dengan maksud agar Kabupaten Kudus dikenal luas kearifan lokalnya.
"Harapan saya, orang yang memakai batik produk ini bisa lebih mengenal berbagai kearifan lokal di Kudus."
"Meski belum ada yang kami patenkan, namun kami tetap akan berproses agar bisa terus maju," ujarnya.
Selama dua hari mengikuti Pasar Rakyat, beberapa produk Batik Gentamas Kudus laku terjual dengan harga lebih dari Rp 100 ribu per produk.
Genta berharap, Pasar Rakyat Kudus yang diikuti ratusan pelaku UMKM bisa diselenggarakan berkelanjutan untuk memfasilitasi pelaku usaha kecil di Kabupaten Kudus.
"Produk UMKM itu butuh branding, mengenalkan kepada masyarakat luas."
"Mudah-mudahan event seperti Pasar Rakyat ini sering diadakan untuk memajukan UMKM Kudus," tuturnya.
Sekda Kabupaten Kudus, Sam'ani Intakoris menerangkan, Pasar Rakyat ini merupakan program Bupati Kudus HM Hartopo dalam rangka memberikan fasilitas kepada UMKM.
Dia menyebut, ada sekira 300 UMKM yang mendasarkan produknya masing-masing di sepanjang Jalan Sunan Kudus hingga 26 September 2022.

Baca juga: Hadiah HUT ke-437: Sate Kebo, Parijoto, dan Joglo Pencu Tercatat Jadi Khas Kudus
Meski belum semua UMKM di Kudus terakomodir, dia berharap, UMKM dengan produk unggulan Kota Kretek bisa menjadi ujung tombak kebangkitan ekonomi masyarakat.
Mulai dari kuliner, fashion, hingga kerajinan-kerjinan daerah.
"Pasar Rakyat ini dalam rangka HUT ke-473 Kabupaten Kudus, usia yang cukup untuk bisa memajukan potensi daerah."
"Misalnya di bidang perdagangan, jasa, pertanian, industri, dan lainnya," kata dia kepada Tribunjateng.com, Jumat (23/9/2022).
Pihaknya mengajak semua masyarakat untuk mendukung program-program yang dicanangkan Bupati Kudus.
Termasuk program kegiatan yang menyasar UMKM agar bisa naik kelas.
"Pelaku UMKM tidak terlalu berdampak terhadap inflasi."
"Kami dorong bersama agar bisa terfasilitasi terus oleh pemerintah daerah."
"Ada sekira 1.700 UMKM di Kudus yang terdaftar, semoga bisa terus maju," harapnya. (*)
Baca juga: Warga Gedongan Tagih Janji Bupati Karanganyar, Sampai Sekarang Cafe Belum Dibongkar
Baca juga: 13 Musisi Pengisi Kompilasi Ambyaran Semarang, Produk Mutualisme Panjawi dan Trans Semarang
Baca juga: Pengadaan Kendaraan Listrik Pemkot Semarang Mulai Akhir Tahun Ini, Tahap Awal Tersedia Rp 4,1 Miliar
Baca juga: UKSW Salatiga Pemenang AMSI Jateng Digital Awards 2022, Kategori Perguruan Tinggi Swasta