Berita Pekalongan

70 Persen Karya Perajin Kota Pekalongan, Daerah Pemasok Batik Seluruh Nusantara

Hampir di seluruh pusat perbelanjaan dan pasar tradisional di Indonesia menjual ragam corak batik yang dibuat oleh warga lokal Kota Pekalongan.

Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/INDRA DWI PURNOMO
Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid memimpin upacara peringatan Hari Batik Nasional (HBN) Tahun 2022, di Halaman Museum Batik Pekalongan, Minggu (2/10/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Kota Pekalongan saat ini menjadi daerah pemasok batik di berbagai wilayah di Indonesia.

Bahkan sesuai data, besarannya mencapai sekira 70 persen.

Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid menyebutkan, hampir di seluruh pusat perbelanjaan dan pasar tradisional di Indonesia menjual ragam corak batik yang dibuat oleh warga lokal Kota Pekalongan.

Seperti di Pasar Beringharjo, Malioboro, Yogyakarta, Pasar Klewer Surakarta, Pasar Tanah Abang, hingga Thamrin City Jakarta.

Baca juga: UPDATE : Pondasi Jembatan Jagung Amblas, Berikut Ini Jalur Alternatif Kajen-Kesesi Pekalongan

Baca juga: Kesaksian Warga Saat Jembatan Jagung Pekalongan Amblas, Nur Intan Dengar Suara Brugggg

"Pasca pandemi Covid-19 ini, mudah-mudahan ekonomi kembali pulih, tidak ada refocussing anggaran lagi."

"Sehingga pameran-pameran batik ke luar negeri bisa dilakukan untuk menggenjot promosi batik Pekalongan."

"Tentunya ini dengan dukungan dan fasilitasi dari Kementerian Luar Negeri," ucap Aaf panggilan akrabnya Wali Kota Pekalongan kepada Tribunjateng.com, Minggu (2/10/2022).

Menurutnya, pada peringatan Hari Batik Nasional (HBN) Tahun 2022 ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan sektor batik di Kota Pekalongan pasca pandemi Covid-19.

Terlebih, Kota Pekalongan juga sudah ada Pasar Grosir Setono yang pada waktu weekend ramai dipadati pengunjung dari luar daerah Kota Pekalongan.

"Apalagi adanya akses Exit Tol Setono Pekalongan yang keluar tepat di depan grosir Setono."

"Ini bisa berdampak signifikan, tidak hanya dari penjualan batik, tetapi sektor lain seperti makanan, hotel, pariwisata di Kota Pekalongan juga laku dan ramai," ujarnya.

Baca juga: Polisi Temukan Bekas Proyektil di Lokasi Teror Kasus Penembakan di Pekalongan

Baca juga: PENAMPAKAN Teror Penembakan Misterius Mobil di Pekalongan, Ini Kata Kapolres

Aaf menyebutkan, saat ini pertumbuhan ekonomi Kota Pekalongan di angka sekira 5,8 persen dan untuk batik sekira 3,9 persen.

"Mudah-mudahan bisa terkejar terus," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Sarung Batik Kota Pekalongan, Romi Oktabirawa menegaskan pentingnya pelestarian batik.

Sebab, gelar warisan tak benda UNESCO itu bisa dicabut. 

"Tiap 10 tahun predikat itu direview bisa dicabut juga, bilamana terjadi perubahan peradaban misalnya perang."

"Lalu misalkan Pekalongan sudah tidak pakai batik tapi printing semua, itu bisa dicabut UNESCO," katanya kepada Tribunjateng.com, Minggu (2/10/2022).

Dia juga mengatakan bahwa tidak hanya batik, pegiat fashion Kota Pekalongan juga mengajukan kebaya menjadi warisan budaya ke UNESCO

"Sudah kami ajukan dan saat ini sedang verifikasi," ucapnya. (*)

Baca juga: Bawaslu Kabupaten Semarang: Pendaftaran Panwascam Diperpanjang di Enam Kecamatan

Baca juga: Mulai Besok Senin, Operasi Zebra Candi 2022, Berikut Sasaran Penindakan Polres Tegal

Baca juga: Perum Grand Panorama 3 Semarang Mulai Dibangun, Sasar Segmen Menengah, Harga Mulai Rp 500 Juta

Baca juga: Cerita Trio Goweser Seusai Temui Ganjar Pranowo di Semarang, Bersepeda Promosikan Ironman 70.3

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved