Tragedi Kanjuruhan Malang

Suporter Salatiga Kompak Tutup Mulut dan Hidung, Protes Penggunaan Gas Air Mata Saat Kerusuhan

Aliansi Suporter Salatiga melakukan aksi tutup mulut dan hidung sebagai bentuk protes atas penggunaan gas air mata dalam menangani kerusuhan.

Editor: deni setiawan
KOMPAS.com/Dian Ade Permana
Aliansi Suporter Salatiga menggelar aksi tutup hidung dan mulut sebagai bentuk protes penggunaan gas air mata dalam penanganan kerusuhan di Malang Jawa Timur. Aksi itu dilaksanakan di Lapangan Pancasila Salatiga, Senin (3/10/2022) malam. 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Sepak bola sebagai pemersatu bangsa, menjadi kalimat penting dalam kegiatan spontanitas yang dilakukan para suporter di Kota Salatiga, Senin (3/10/2022) malam.

Tak cuma menyalakan lilin dan doa bersama, para suporter dari berbagai daerah tersebut juga menggelar aksi tutup mulut dan hidung.

Aksi tersebut secara tidak langsung sebagai bentuk protes mereka atas aksi penggunaan gas air mata dalam mengatasi kerusuhan suporter di Stadion Kanjuruhan Malang pada Sabtu (1/10/2022).

Baca juga: Operasi Zebra Candi 2022 di Kota Salatiga Menggunakan Sistem ETLE

Baca juga: Penutupan Latsar CPNS Kota Salatiga, Sinoeng N Rachmadi: Tetap Tegakkan Integritas dan Loyalitas

Aliansi Suporter Salatiga melakukan aksi tutup mulut dan hidung sebagai bentuk protes atas penggunaan gas air mata dalam menangani kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu (1/10/2022).

Dalam kerusuhan tersebut seratusan orang meninggal dunia.

Sebelum melakukan aksi tutup mulut dan hidung, ribuan suporter dari berbagai klub tersebut menyalakan lilin dan doa bersama untuk para korban.

Peserta doa bersama berasal dari klub Arema Malang, Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, PSS Sleman, Persib Bandung, Persija Jakarta, PSISa Salatiga, Persis Solo, Persipura Jayapura, dan berbagai klub lain.

Koordinator aksi, Adi Limantoro mengatakan, doa bersama dan menyalakan lilin ini adalah aksi spontan yang digelar suporter.

"Kami selaku suporter merasa prihatin dengan kejadian di Stadion Kanjuruhan Malang, apalagi sampai ada seratusan korban jiwa," jelasnya seperti dilansir dari Kompas.com, Senin (3/10/2022) di Lapangan Pancasila Salatiga.

Adi mengungkapkan, sepak bola adalah hiburan bagi masyarakat, termasuk menggerakan perekonomian.

Baca juga: Persibat Batang Vs PSISa Salatiga Ditunda Sepekan, Imbas Tragedi Kanjuruhan Malang

Baca juga: Buntut Tragedi Kanjuruhan Malang, Pertandingan Persibat Batang Vs PSISa Salatiga Liga 3 Ditunda

"Kami semua merindukan sepak bola yang damai, sepak bola yang ramah bagi semuanya."

"Mulai dari suporter, perempuan, dan anak."

"Termasuk keamanan juga," ujarnya.

Dikatakan, sudah saatnya suporter meninggalkan rivalitas yang sempit.

"Semua memiliki tim kebanggaan, sudah saatnya suporter maju dan rivalitas itu hanya sebatas di lapangan," kata Adi.

Sementara Manajer PSISa Salatiga, Hartoko Budhiono mengungkapkan, sepak bola harus menjadi sarana pemersatu.

"Harus dewasa dalam menyikapi hal ini."

"Tetapi yang lebih terpenting adalah menjadikan sepak bola sebagai olahraga pemersatu bangsa," ungkapnya. (*)

Artikel ini telah tayang sebelumnya di Kompas.com berjudul Tolak Penggunaan Gas Air Mata, Suporter di Salatiga Gelar Aksi Tutup Mulut dan Hidung

Baca juga: Hati Javier Roca Hancur Lebur, Pelatih Arema FC: Semua Tak Akan Terjadi Jika Berakhir Imbang

Baca juga: Sosok AKBP Ferli Hidayat, Dicopot Sebagai Kapolres Malang, Dua Pekan Sebelumnya Dipuji Bobotoh

Baca juga: Kini Giliran Perangkat Desa Mogok Kerja, Imbas Kades Cilongok Banyumas Ogah Mengundurkan Diri

Baca juga: Innalillahi, Dua Pekerja Asal Rembang Tewas Tersambar Petir, Lagi Bongkar Rumah di Tuban

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved