Berita Pekalongan

Data Dinkes Kota Pekalongan, Dua Kecamatan Ini Terbanyak Kasus DBD

Berdasarkan data Dinkes Kota Pekalongan, paling banyak kasus DBD berada di Kecamatan Pekalongan Barat dan Kecamatan Pekalongan Selatan.

Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/INDRA DWI PURNOMO
Pelaksaan fogging oleh petugas Dinkes Kota Pekalongan di wilayah rawan kasus DBD, Rabu (5/10/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Pekalongan mengalami peningkatan di tahun ini.

Sejak Januari hingga akhir September 2022 tercatat ada 115 kasus, 2 di antaranya meninggal dunia.

Padahal pada 2021, kasus selama setahun hanya 39 orang dan 2 orang meninggal dunia.

Baca juga: Ganjar Dorong Kota Pekalongan Jadi Pusat Batik Dunia

Baca juga: Pemkab Pekalongan Alokasikan Rp 4,9 Miliar untuk Penanganan Dampak Inflasi Akibat Kenaikan BBM

"Kasus ini hampir ada di semua wilayah Kota Pekalongan."

"Ini karena kondisi cuaca yang tidak menentu, misalnya hari ini hujan besoknya panas," Administrator Kesehatan Muda Dinkes Kota Pekalongan, Opik Taufik kepada Tribunjateng.com, Rabu (5/10/2022).

Berdasarkan data, paling banyak kasusnya berada di Kecamatan Pekalongan Barat dan Kecamatan Pekalongan Selatan.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar melakukan pencegahan DBD dengan meningkatkan kepeduliannya terhadap lingkungan.

"Pencegahan dengan melakukan pemeriksaan jentik secara berkala, pemberian abate jentik positif, serta penyuluhan ke masyarakat."

"Kami meminta masyarakat untuk waspada terhadap DBD dan menanggulanginya dengan menjaga kebersihan lingkungannya," imbuhnya.

Dijelaskan Opik, Dinkes Kota Pekalongan juga melakukan pelacakan kasus DBD berdasarkan kasus di rumah sakit.

Dimana di RS ketika ada pasien DBD lapor ke Dinkes Kota Pekalongan.

Pelaksaan fogging oleh petugas Dinkes Kota Pekalongan di wilayah rawan kasus DBD, Rabu (5/10/2022).
Pelaksaan fogging oleh petugas Dinkes Kota Pekalongan di wilayah rawan kasus DBD, Rabu (5/10/2022). (TRIBUN JATENG/INDRA DWI PURNOMO)

Baca juga: Viral Pembacokan di Depan SPBU Kertijayan Pekalongan

Baca juga: Tangani Dampak Inflasi Akibat Kenaikan BBM, Pemkab Pekalongan Alokasikan Rp 4,9 Miliar

Jika rumah penderita dan sekitarnya memenuhi syarat penyemprotan (fogging) pihaknya akan melakukannya.

"DBD ini bisa mengenai semua usia baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun orangtua."

"Kasus ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinkes, ini tanggung jawab setiap orang untuk menjaga lingkungan."

"Jika rumah bersih, tapi kiri dan kanan masih kotor serta banyak nyamuk juga percuma."

"Ayo jaga kebersihan lingkungan sekitar," ajaknya.

Pihaknya menambahkan, penyemprotan fogging bukan penyelesaian masalah.

Namun, yang paling penting yakni menjaga kesehatan masing-masing, menjaga kebersihan lingkungan rumah, kemudian melaksanakan kebersihan lingkungan secara serentak dan rutin. (*)

Baca juga: Bupati Karanganyar Juliyatmono: Tahun Depan Fokus Infrastruktur, Yang Tertunda Bakal Dikerjakan

Baca juga: Warga Kota Tegal Tak Perlu Takut Laporkan Dugaan Pelanggaran Pemilu, Identitas Pelapor Dirahasiakan

Baca juga: Mbak Ita Ingin Tiap Kelurahan di Semarang Punya Motif Batik Khas, Diperkuat Melalui Telling Story

Baca juga: Pesan Sinoeng Kepada ASN Pemkot Salatiga: Jangan Terjebak dalam Inovasi Digitalisasi

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved