Minggu, 26 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Ekonomi Bisnis

Masih Eksis, Gebyok Kudusan Ini Jadi Incaran Kalangan Pejabat Hingga Pengusaha

Gebyok bernama "Lestari Budaya" merupakan gebyok dengan ukiran khas Kudus untuk dijadikan rumah adat Kudus.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/IDAYATUL ROHMAH
Pengrajin gebyok asal Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus sedang memahat kayu di stand "Lestari Budaya" dalam sebuah acara di Kota Lama Semarang, baru-baru ini. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Hunian dengan desain modern belakangan ini terus bermunculan.

Namun hal itu tak lantas membuat rumah dengan desain tradisional menjadi sepi peminat.

Di kalangan tertentu, rumah dengan desain tradisional justru menjadi incaran.

Hal itu diakui pengrajin gebyok asal Kabupaten Kudus.

Hermawan, pengrajin yang merupakan binaan Disbudpar Kabupaten Kudus mengatakan, gebyok atau dinding kayu dengan ukiran tradisional khas Jawa itu eksis di sejumlah kalangan.

Baca juga: Cerita Korban Penipuan WO Abal-abal di Semarang, Modal Nikah 13 Pasangan Sebesar Rp 1 Miliar Raib

"Gebyok ini kalau sudah jadi (rumah), harganya bisa sampai Rp 1 miliar."

"Jadi peminatnya juga tertentu."

"Kalau kata orang-orang, pembelinya orang-orang yang uangnya 'tidak berseri' atau tidak dihitung-hitung," katanya kepada Tribunjateng.com saat membuka stand di Kota Lama Semarang, baru-baru ini.

Disebutkan lebih lanjut, gebyok yang dibuat timnya yang bernama "Lestari Budaya" merupakan gebyok dengan ukiran khas Kudus untuk dijadikan rumah adat Kudus.

Menurut dia, gebyok-gebyok itu dibuat dari kayu jati berkualitas sehingga tidak heran jika harganya tergolong tinggi.

"Ini kayunya dari kayu jati TPK, kebanyakan masih suplai dari Kabupaten Blora karena kualitasnya lebih bagus," ujarnya kepada Tribunjateng.com, Rabu (31/5/2023).

Baca juga: Sosok Indri Hapsari, Satu-satunya Master Trainer Pilates Internasional Asal Kota Semarang

Sementara itu, Hermawan menambahkan, yang membuat harga gebyok tinggi juga dari sisi proses ukirnya.

Selain rumit, kata dia, dalam prosesnya juga membutuhkan waktu yang lama.

Dia merinci, membuat satu potong gebyok sendiri bisa menghabiskan waktu hingga satu setengah hari.

Yakni dimulai dari membuat pola, dibeber, kemudian dibentuk menggunakan mesin, baru setelah itu dipahat dan selesainya dilanjutkan dengan pengamplasan atau finishing.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved