Berita Pendidikan
Ini Pesan Bagi Para Pendidik di Era Kecerdasan Buatan, Penilaian Berdasarkan Proses Bukan Hasil
Gempuran teknologi yang mewarnai kehidupan manusia menjadi sebuah keniscayaan. Manfaat teknologi berbanding lurus dengan kerugian yang dihasilkan.
Penulis: amanda rizqyana | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gempuran teknologi yang mewarnai kehidupan manusia menjadi sebuah keniscayaan.
Manfaat teknologi berbanding lurus dengan kerugian yang dihasilkan, baik dari segi komunikasi maupun efisiensi.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Drs. Johanes Eka Priyatna, M.Sc., Ph.D., bahwa teknologi terus berkembang.
"Saat ini teknologi bernama Artificial Intelligence, AI, atau kecerdasan buatan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia," ujarnya pada Tribun Jateng.
Pada kesempatan Konferensi Pers Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata atau Soegijapranata Catholic University (SCU) Berbakti dan Seminar Redefinisi Pendidikan di Library Cafe, Gedung Thomas Aquinas Lantai 2, Kampus Bendan Ngisor, Kota Semarang, Senin (24/7/2023), ia menyatakan kecerdasan buatan seperti ChatGPT telah memudahkan dalam pencarian informasi.
"Bahkan cukup kita ketikkan perintah, misal membuat teks pidato, ChatGPT dapat melakukan tugas itu," ungkapnya.
Kemajuan teknologi yang semakin pesat tersebut berimbas pada dunia pendidikan karena siswa tak perlu lagi menciptakan karya atau mengerjakan tugas sesuai dengan perintah guru atau dosen.
Mereka cukup mengetikkan perintah tugas, akan dihadirkan oleh kecerdasan buatan tersebut.
Bahkan kecerdasan buatan juga berpotensi menggusur peran pendidik, baik guru dan dosen sebagai sumber informasi.
Baginya, hal tersebut merupakan keniscayaan, meski demikian perlu dilakukan langkah yang bijak dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi.
"Kecerdasan buatan dikembangkan untuk meniru cara berpikir rasional, sedangkan manusia mampu berpikir emosional yang berada jauh di atas itu," tambahnya.
Sebagai pendidik, kecerdasan buatan mengubah evaluasi atau penilaian pada tugas dan karya siswa.
Ke depannya penilaian akan memperhatikan proses, bukan lagi penilaian yang berorientasi pada hasil.
Pelaksanaan ujian untuk mengetahui kecakapan materi siswa pun bisa digeser dengan melakukan penilaian keterampilan siswa.
Selain itu, yang membedakan peran pendidik dengan kecerdasan buatan ialah pendidik memiliki keterampilan mendorong aspek spiritual, kemandirian, hingga rasa percaya diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/konferensi-pers-universitas-katolik-unika-soegijapranata-atau-soegijapranata-catholic-university.jpg)