Berita Jateng
Embung Gudangharjo: Penyelamat Dahaga Warga di Musim Kemarau Panjang
Nurlela, seorang perempuan berusia 24 tahun yang tinggal di Desa Songbanyu, kecamatan Girisubo berbagi kisah tentang kekeringan yang sudah menghimpit
Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: galih permadi
Profesor Mukhlisin berpendapat bahwa embung adalah salah satu solusi yang baik untuk menyediakan air bagi masyarakat saat musim kemarau. Alternatif lainnya adalah mencari sumber air melalui pengeboran sumur dalam. Namun, ini bukan solusi yang mudah, terutama jika terdapat potensi head loss di sumber air dalamnya, yang bisa menghabiskan biaya yang signifikan.
Untuk menjaga embung agar berkelanjutan, perawatan dan konservasi dari hulu menjadi kunci. Daerah hulu yang terjaga dengan baik akan membantu menjaga ketersediaan air. Oleh karena itu, menjaga konservasi di daerah atas sangat penting. Pembangunan yang sembarangan di daerah hulu, seperti penebangan pohon, dapat mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air, yang berkontribusi pada recharging sumber air dalam.
Untuk embung yang menggunakan sumber air hujan, melapisi embung dengan geomembran adalah opsi yang baik. Namun, pengujian laboratorium untuk memeriksa kualitas airnya secara berkala sangat dianjurkan. Ini penting karena air hujan akan berinteraksi dengan tanah di bawahnya, dan perlu dilakukan uji laboratorium untuk memastikan kualitas air yang cocok untuk dikonsumsi.
Profesor Mukhlisin juga menekankan bahwa air hujan pertama sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi karena dapat tercemar oleh asap dan polusi udara. Namun, air hujan yang datang setelahnya cenderung lebih baik karena dapat membersihkan udara di atasnya. Meskipun kualitas air hujan relatif baik, uji laboratorium tetap penting.
"Kalau hujan pertama itu harusnya dihindari untuk dikonsumsi airnya. Ada asap, ada polusi udara yang tercemar. Tapi untuk hujan berikutnya saya kira akan lebih baik. Hujan itu kan sebenarnya menjernihkan oksigen juga atau udara yang di atas. Kalau hujan pertama itu kan kita belum tahu kondisi pencemaran udara di sebuah daerah itu bagaimana. Tapi selama itu di daerah pedesaan, saya kira relatif lebih fresh," paparnya.
Dalam rangka untuk melindungi kualitas air hujan dari pencemaran dalam tanah, melapisi embung dengan geomembran adalah langkah penting. Namun, untuk embung yang menggunakan sumber air dari sungai, perlu dilakukan uji laboratorium lebih ketat, karena risiko kontaminasi lebih besar.
"Kalau untuk embung yang sumber atau suplainya dari air sungai harus lebih hati-hati lagi. Wajib dilakukan uji lab. Kalau air hujan itu kan sudah merupakan saringan dari alam, penguapan itu sebenarnya penjernihan air sendiri, kondensasi itu. Sehingga pada waktu turun itu relatif aman selama airnya tidak kena tanah ya," tandasnya.
Dalam kesimpulan, embung adalah solusi penting dalam mengatasi kekeringan, dan pemilihan sumber air serta perawatan yang baik sangat diperlukan untuk memastikan manfaatnya dalam jangka panjang. Selain itu, uji laboratorium berkala penting untuk memeriksa kualitas air yang aman untuk dikonsumsi.(*)
Cegah Perundungan, Program Pesantren Ramah Anak Terus Digalakkan |
![]() |
---|
Melalui Buku Jawa Tengah Berani Mendunia, Strategi Ekspor Baru Diluncurkan di Hari Jadi ke-80 Jateng |
![]() |
---|
Petani Apresiasi Pemprov Jateng Pulihkan Lahan Pertanian Seluas 512 Hektar di Demak |
![]() |
---|
Kebahagiaan Rifan, Petani Demak: Lahan yang Dulu Terendam Kini Berpotensi 3 Kali Panen Setahun |
![]() |
---|
Lewat Buku “Jawa Tengah Berani Mendunia”, Strategi Ekspor Baru Diluncurkan di Hari Jadi ke-80 Jateng |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.