Berita Jateng
Embung Gudangharjo: Penyelamat Dahaga Warga di Musim Kemarau Panjang
Nurlela, seorang perempuan berusia 24 tahun yang tinggal di Desa Songbanyu, kecamatan Girisubo berbagi kisah tentang kekeringan yang sudah menghimpit
Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: galih permadi
"Kadang-kadang saya naik motor, kadang meminjam pikap tetangga. Telaga ini adalah yang paling andal (jarang mengering) dibandingkan dengan yang lain. Kita bisa mengambil air sebanyak yang dibutuhkan tanpa ada biaya, karena itu adalah milik pemerintah provinsi Jawa Tengah," kata pegawai sebuah penatu di Yogyakarta ini.
Ela sangat bersyukur dengan adanya embung ini. Setidaknya, ada sedikit harapan dan warga tidak perlu khawatir kehabisan air.
Ibu anak satu ini menyampaikan terima kasih atas pembangunan Telaga Jarakan menjadi embung yang bermanfaat bagi banyak orang, terutama dalam musim kemarau yang panjang ini.
Pendapat Ela juga didukung oleh Saminah, yang akrab dipanggil Mbah Cemplun. Warga Karangkulon ini pernah menjual kambingnya hanya untuk membeli air bersih.
"Mpun dangu sadean mendo dingge tumbas toyo. Mriki toyo awis. Kolomben nggih ajeg tumbas galonan, menawi truk kagem siram, galonan kagem ngunjuk (Sudah lama pernah jual kambing untuk beli air. Di sini air mahal. Dulu ya sering beli air kemasan galon, kalau air truk tanki itu buat mandi, yang kemasan galon untuk minum)," jelasnya
Wanita paruh baya ini sangat bersyukur karena kini ada embung di dekat rumahnya yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang. Embung ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan minum.
Mbah Cemplun berharap bahwa akan ada pemasangan pompa agar warga tidak perlu lagi menimba air dari embung. Meskipun dia siap membayar ketika memompa air, usul ini belum mendapatkan tanggapan dari pihak pemerintah desa setempat di sekitar embung Gudangharjo.
Desa Gudangharjo, di bawah kepemimpinan Kepala Desa Sriyono, telah melihat perkembangan signifikan dengan dibangunnya sebuah embung pada tahun 2016. Embung ini saat ini telah memberikan manfaat kepada 95 persen penduduknya yang tersebar di 8 dusun.
Pembangunan embung ini didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah. Dengan dukungan dana tersebut, sekitar 95 persen dari 500 kepala keluarga di desa ini telah merasakan manfaatnya. Embung ini telah memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan rumah tangga, ternak, tanaman, dan perkebunan warga.
Penting untuk mencatat bahwa pencapaian ini merupakan bagian dari Gerakan Seribu Embung yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Saat ini, terdapat 1.135 embung yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah, menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan ketersediaan sumber daya air yang memadai bagi masyarakat.
Tentang Manfaat dan Kualitas Embung dalam Penanggulangan Kekeringan
Embung adalah salah satu solusi penting dalam mengatasi masalah kekeringan, terutama saat musim kemarau. Ahli Hidrologi Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Semarang Prof. Dr. Ir. Muhammad Mukhlisin, M.T. mengatakan pembangunan embung dianggap memiliki manfaat yang signifikan dalam upaya penanggulangan bencana, khususnya kekeringan.
Embung dapat digunakan sebagai wadah penyimpanan air, yang sangat dibutuhkan saat pasokan air menjadi langka. Tetapi, untuk memastikan keberhasilan embung, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, seperti lokasi embung, sumber air, dan kapasitasnya.
Menurut Profesor Mukhlisin, lokasi embung menjadi faktor penting. Selain itu, sumber air embung perlu diperhatikan. Ada embung yang sumber airnya hanya berasal dari hujan, yang potensi kekeringannya lebih tinggi jika kapasitas tampung airnya terbatas. Terutama saat musim kemarau yang panjang, terdapat penguapan air yang perlu dipertimbangkan. Faktor pemanfaatan air oleh masyarakat juga berpengaruh, dan potensi kekeringan embung akan lebih tinggi jika suplai airnya tidak berkelanjutan.
Namun, ada embung dengan sumber air yang tidak hanya dari hujan, tetapi juga dari catchment area, seperti anak sungai. Embung semacam ini mampu menyuplai air secara berkelanjutan dan memiliki kapasitas lebih besar. Namun, setiap kasus embung perlu dievaluasi secara khusus.
Cegah Perundungan, Program Pesantren Ramah Anak Terus Digalakkan |
![]() |
---|
Melalui Buku Jawa Tengah Berani Mendunia, Strategi Ekspor Baru Diluncurkan di Hari Jadi ke-80 Jateng |
![]() |
---|
Petani Apresiasi Pemprov Jateng Pulihkan Lahan Pertanian Seluas 512 Hektar di Demak |
![]() |
---|
Kebahagiaan Rifan, Petani Demak: Lahan yang Dulu Terendam Kini Berpotensi 3 Kali Panen Setahun |
![]() |
---|
Lewat Buku “Jawa Tengah Berani Mendunia”, Strategi Ekspor Baru Diluncurkan di Hari Jadi ke-80 Jateng |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.