Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Liputan Khusus

Kala Produk Pakaian dan Alas Kaki serta Gadget Impor dari China Banjiri Jateng

Akhir-akhir ini makin mudah ditemukan produk impor dari China di pasaran. Pakaian, alas kaki dan gadget dari China mendominasi dagangan di toko maupun

TRIBUNJATENG/Fajar Bahruddin Achmad
Pemilik toko menunjukkan sepatu produksi lokal (kanan) dan sepatu produk impor China (kiri) di kiosnya di Pasar Pagi Kota Tegal, Minggu (21/7/2024). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Akhir-akhir ini makin mudah ditemukan produk impor dari China di pasaran. Pakaian, alas kaki dan gadget dari China mendominasi dagangan di toko maupun pusat perbelanjaan.

Harga murah, kualitas bagus, dan penampilan menarik serta modern. Maka tak heran produk-produk dari China lebih laku dibanding produk yang sama, buatan lokal.

Tribun Jateng melakukan penelusuran ke toko maupun pusat perbelanjaan di beberapa kota di Jawa Tengah, mengenai produk impor dari China terutama pakaian jadi, alas kaki, dan gadget, misal headset wireless yang lagi digandrungi remaja.

Pemuda di Kabupaten Kendal, sebut saja Rizal (34) sudah 18 bulan menekuni bisnis thrifting atau barang impor bekas. Mantan karyawan pabrik di Kota Semarang itu, membuktikan usahanya bisa menghasilkan lebih dari gaji buruh.

Omzet sebulan lebih dari Rp 7 juta, hanya dengan menjual pakaian impor bekas. Rizal memulai bisnis tersebut saat ia terkena PHK tahun 2022 lalu. Ia mengaku mendapatkan barang impor bekas dari rekannya yang ada di wilayah Bandung, Jabar.

"Saya beli langsung satu bal pakaian impor bekas. Kalau harga bervariasi ada yang Rp 7 juta sampai Rp 15 juta tergantung isinya," kata Rizal kepada Tribun Jateng, Minggu (21/7).

Turut dijelaskan Rizal secara detail, bal pakaian impor bekas yang ia beli dari Bandung. Ia menuturkan berat satu bal pakaian impor bekas yang ia beli bisa mencapai 100 kilogram lebih, dengan isi hampir 1.000 potong pakaian.

Rizal pun menjual per potong pakaian impor tersebut dengan harga Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu per potongnya.

"Sebelum dijual ya dipilih terlebih dahulu, kalau ada merk mahal bisa saya jual Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Biasanya barang yang saya dapat dari Australia, Eropa, Jepang sampai China," tuturnya.

Di tengah pro kontra barang impor, bisnis Rizal tetap berjalan dan menuai hasil yang bisa ia gunakan untuk menghidupi anak dan istrinya. Ia juga menanggapi pro kontra barang impor yang dijual di tanah air secara santai. Dia juga tahu ada larangan dari pemerintah terkait impor pakaian bekas.

"Realistis saja, saya juga butuh makan dan biaya hidup. Kalau memang produk lokal dikatakan mati karena barang impor baik bekas atau baru, seharusnya pemerintah juga memikirkan agar produk lokal bisa bersaing. Khususnya terkait harga dan bahan," katanya.

Rizal mengatakan, masyarakat sudah pandai dan mencari barang dengan harga terjangkau serta memiliki kualitas baik.

"Kalaupun dilarang jangan ke pedagang di tingkat dasar, awasi akses masuk barang impor tersebut. Kami hanya mencari rezeki untuk keluarga. Tak hanya saya, karena penjual barang impor bekas banyak sekali," jelas Rizal.

Ada Larangan

Jika dilihat dari peraturan yang dibuat oleh Kementarian Perdagangan, pakaian bekas menjadi barang yang dilarang untuk diimpor.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved