Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Transaksi Digital QRIS Masih Hadapi Sejumlah Tantangan di Masyarakat

Masalah kebiasaan, kendala jaringan, hingga kepercayaan terhadap sistem masih menjadi tantangan penggunaan QRIS di tengah masyarakat.

Penulis: Tito Isna Utama | Editor: Vito
TRIBUN JATENG/Saiful Ma sum
TRANSAKSI QRIS - Pembeli mengakses transaksi pembelian dengan menggunakan QRIS di pedagang kaki lima Kudus, Kamis (1/1/2026). QRIS kini sudah tersedia di berbagai unsur jual beli, dari pasar rakyat hingga pedagang kaki lima (PKL). 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Tidak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi mendorong terjadinya peralihan metode pembayaran, termasuk penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai sarana transaksi digital

Upaya bank sentral mendorong pembayaran non tunai melalui QRIS pun belum sepenuhnya menggeser kebiasaan transaksi tunai di masyarakat. Masalah kebiasaan, kendala jaringan, hingga kepercayaan terhadap sistem masih menjadi tantangan.

Hal itu seperti terlihat dari aktivitas transaksi sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di Kecamatan Jepara yang masih didominasi pembayaran secara tunai.

Shania (22), pedagang dimsum di kawasan Pengkol, Jepara, mengatakan, mayoritas pelanggannya masih membayar secara tunai.

“Kalau pembayaran masih didominasi tunai semua. Kalau QRIS atau non tunai jarang. Kadang QRIS suka error, jadi lebih pilih transfer,” ujarnya, kepada Tribun Jateng, pekan lalu.

Menurut dia, masih banyak pembeli yang belum terbiasa menggunakan QRIS meskipun memiliki layanan mobile banking (m-banking).

Hal serupa disampaikan Pramudya (29), warga Desa Tanjung, Kecamatan Pakisajim, Jepara. Meski memiliki m-banking, ia mengaku tidak pernah menggunakan QRIS.

“Saya nggak pernah pakai QRIS. Ribet, sudah terbiasa cash. Kalau transaksi kecil pakai tunai, kalau besar pakai debit. Saya lebih percaya debit daripada scan QRIS,” katanya.

Menurut dia, faktor kebiasaan dan rasa aman menjadi alasan utama ia enggan beralih ke pembayaran berbasis pemindaian barcode.

Adapun, warga Kudus, Adib (45) mengaku lebih suka belanja dengan uang tunai, terutama untuk berbagai kebutuhan harian dagangan warung makan yang dikelola. 

Ia selalu menggunakan uang cash yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sesekali ia menggunakan QRIS ketika uang cash yang dipersiapkan kurang untuk pembelian.

"Saya lebih suka bayar tunai, tapi ya pernah bayar pakai QRIS. Bagi saya, apapun metode pembeliannya, pedagang tetap raja, dan harus dilayani dengan sepenuh hati," ucapnya.

Sebabkan antrean

Sementara, pemberlakuan pembayaran non tunai menggunakan dompet digital atau QRIS mulai awal 2026 justru menyebabkan terjadinya antrean kendaraan yang mengular di pintu masuk Daya Tarik Wisata (DTW) Guci Kabupaten Tegal akibat 

Hal itu karena sebagian besar pengunjung membutuhkan waktu mengeluarkan handphone, ada juga yang ternyata tidak memiliki saldo, bahkan tidak membawa handphone. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved