UIN Walisongo Semarang
Rahasia Sukses Mahasiswa Pascasarjana Terungkap: UIN Walisongo Siapkan Filosof Doktor Masa Depan
Dalam orientasi mahasiswa baru, UIN Walisongo membongkar perbedaan mencolok antara S1, S2, dan S3. Apa yang membuat mereka menjadi pemikir kreatif?
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pascasarjana UIN Walisongo melakukan Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) selama 1 hari pada Jumat 9 Agustus 2024 dari jam 07.30 hingga 16.00 WIB. Pembukaan kegiatan dilakukan di ruang teater lantai 4, Gedung Kiai Sholeh Darat Kampus 3, dihadiri oleh Wakil Rektor I Prof. Muhsin Jamil, Direktur Pascasarjana Prof. Muhyar Fanani, Wakil Direktur Pascasarjana Dr. Nasihun Amin, para kajur dan sekjur seluruh prodi pascasarjana serta para mahasiswa baru yang berjumlah sekitar 150 orang.
Dalam sambutannya, Wadir Pascasarjana menyampaikan bahwa kegiatan ini meliputi orientasi tentang kepascasarjanaan; sistem akademik; perpustakaan; panduan penulisan karya tulis ilmiah; plagiarism checker; dan keprodian.
Secara umum, sebagaimana disampaikan oleh Wakil Rektor I, pengenalan sistem akademik dalam OMB adalah untuk memahami perpindahan posisi terkait mind set S1 menjadi S2 dan S3. Fokus S1 adalah pada kecakapan teknis sehingga isi dari skripsi adalah deskripsi tentang kecakapan; S2 fokus pada kecakapan analisa sehingga tesis tidak sekedar mendeskripsikan persolan teknis melainkan lebih fokus pada analisa hipotesa; Adapun S3 sebagai lembaga yang menyiapkan calon filosof doktor maka kerja besarnya berfokus pada riset untuk menemukan penjelasan tentang fenomena tertentu.
Senada dengan uraian tersebut, dengan mengutip teori dari Ibn Rusyd, Direktur Pascasarjana juga menjelaskan bahwa mahasiswa pascasarjana harus mendidik dirinya agar bisa berpikir burhani yaitu berpikir yang berpijak pada data dan akurasinya guna menciptakan solusi kreatif atas permasalahan masyarakat dan tidak terjebak pada cara berpikir khaththabi (retorika) yang hanya berorientasi pada olah kata tanpa data, atau berpikir jadali(dialektika) yang hanya mencocokkan pola atas fenomena yang ada. Retorika dan dialektika adalah cara berpikir yang kurang kreatif walaupun sering digunakan oleh masyarakat muslim sehingga miskin kontribusi bagi kemanusiaan dan peradaban. Itulah yang menyebabkan dunia muslim menjadi mundur.
Direktur juga menekankan bahwa secara umum mahasiswa pascasarjana UIN Walisongo merupakan SDM yang baik secara intelektual. Namun kesuksesan mahasiswa pascasarjana tidak hanya ditentukan oleh kepintaran melainkan juga kegigihan dalam menyelesaikan tiap tahapan. Untuk itu, nikmatilah semua proses dan aturlah waktu secara bijak agar studi bisa selesai tepat waktu dengan hasil yang berkualitas.
Pendidikan Bagai Cahaya, Kisah Kiai Budi Harjono, Raih Predikat Wisudawan Terbaik S2 UIN Walisongo |
![]() |
---|
UiTM Perlis Sambangi UIN Walisongo Semarang, Diskusikan Student Exchange hingga Riset Bersama |
![]() |
---|
Iqbal Ahsanul Aula, Wisudawan Terbaik S2 PBA UIN Walisongo, Ukir Prestasi Hingga Thailand |
![]() |
---|
Fawaid, Wisudawan PAI UIN Walisongo Peraih Cumlaude, Kini Mengabdi di MTsN Rembang |
![]() |
---|
Rizky Bagus Fahreza, Wisudawan Inspiratif UIN Walisongo, dari Anak Buruh Jadi Mahasiswa Terbaik |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.