Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Kenapa Pasar Tradisional di Semarang Setelah Dibangun Malah Sepi? Pasar Sampangan hingga Bulu

DPRD Kota Semarang berharap partisipasi lurah untuk menggerakan masyarakat berbelanja ke pasar tradisional

Editor: muslimah
istimewa
Disdag Semarang gelar aksi bersih-bersih pasar tradisional, libatkan DLH dan pedagang dalam persiapan penilaian Adipura. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - DPRD Kota Semarang berharap partisipasi lurah untuk menggerakan masyarakat berbelanja ke pasar tradisional.

Gerakan belanja ke pasar tradisional ini untuk mengangkat perekonomian masyarakat.

Anggota DPRD Kota Semarang, Joko Susilo mengatakan, kondisi perekonomian sedang tidak baik.

Apalagi, setelah pandemi Covid-19, kondisi pasar tradisional sudah berubah.

Dirinya berharap, lurah bisa membantu sosialisasi kepada masyarakat untuk berbelanja di Pasar Tradisional.

Baca juga: Alasan Pentingnya Status Internasional Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, Ini Rute Potensial

Baca juga: 10 Cerita Monumental Jokowi: Mobil Esemka, Masuk Gorong-gorong hingga Bangun IKN

"Pak lurah, Bu lurah bisa membantu belanja di pasar tradisional, sudah terlanjur pasar tradisional drop. Apalagi, setelah terjadi covid-19. Saya setiap hari ketemu pedagang pasar, PKL, semua sambat," papar Joko, saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Pembeli di Pasar Tradisional, di Balai Kota Semarang, Jumat (18/10).

Menurutnya, meramaikan pasar tradisional tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Harus ada kerjasama antara pemerintah, pedagang, dan sejumlah stakeholder untuk turut meramaikan pasar.

Pemerintah, kata dia, juga perlu melakukan evaluasi terhadap pasar tradisional yang ada saat ini.

Pasalnya, sejumlah pasar yang telah dibangun hingga bertingkat banyak justru sepi.

"Saya lihat Pasar Sampangan waktu di tikungan jalan, ramainya minta ampun. Sekarang dipindah depan pom bensin, nggak seperti yang saya banggakan. Sepi," ujarnya.

Tak hanya Pasar Sampangan, dia menyebut, Pasar Bulu juga mengalami kondisi yang sama.

 Bahkan, sepinya pasar tradisional ini juga terjadi sejumlah kota, seperti di Jakarta.

Lebih lanjut, Joko menyebut, Pasar Peterongan yang merupakan cagar budaya. Pasar ini harus dijaga agar tidak rusak.

Menurutnya, Pasar Peterongan sangat ramai saat pagi hari, namun keramaian terjadi bukan di dalam pasar, melainkan di pasar tiban.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved