Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Semarang

Warisan Tanpa Arah: Iin dan Pencarian Jati Diri Batik Semarangan

Pada satu pagi pada rumah yang terletak di gang sempit pada Kampung Batik Semarang, Iin Windha duduk di antara gulungan kain dan diselimuti aroma .

|
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
(TRIBUNJATENG.COM/REZANDA AKBAR D.)
MEMBATIK - Iin Windha Pembatik sekaligus pemilik UMKM Cinta Batik Semarang di Kampung Batik saat sedang mengeblok kain putih yang bergambar Warak Ngendog. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pada satu pagi pada rumah yang terletak di gang sempit pada Kampung Batik Semarang, Iin Windha duduk di antara gulungan kain dan diselimuti aroma seperti kayu basah, Minggu (13/4/2025).

Tangannya bekerja pelan, mencanting pola pada selembar kain putih. Ditemani suara kompor parafin dan detak jam di dinding. 

Tapi di ruang itulah, sejarah kota ini sedang ditulis ulang. Perlahan dengan tangan dan tekad, lewat selembar kain.

Sudah 19 tahun Iin bertahan sebagai pembatik, untuk melestarikan warisan batik Semarangan yang masih hidup hingga hari ini, sebagian besar ditopang dari goresan canting seperti yang dia lakukan. 

Dia adalah satu dari segelintir pembatik tulen yang lahir dari sebuah kampung yang dinamakan kampung Batik Semarang dari tahun 2006.

Tahun 2006, Dinas Perindustrian Kota Semarang melakukan revitalisasi Kampung Batik. Dari pelatihan yang diikuti sekitar 20 orang, hanya satu yang benar-benar bertahan menjadi pembatik aktif yakni Iin.

Dia langsung terjun setelah pelatihan. 

Tapi saat itu ia belum berani mempublikasikan karyanya. Produksi masih terbatas, rumah pun masih sewa. 

Namun cerita tentang kebangkitan Kampung Batik terlanjur menyebar luas, dikemas berlebihan oleh media dan birokrat yang gemar memoles realita.

“Banyak wisatawan datang, cari batik, mereka tidak sekedar cari tapi ingin tahu betul tentang batik Semarangan. Tapi enggak semua tahu saya produksi," jelas Iin sembari menembok kain putih dengan malam.

"Karena kebanyakan disini adalah pedagang batik. Jadi pas mereka lihat realitanya, kecewa. Dibilangnya Kampung Batik hanya Gimik,” kenang Iin.

Pada 2008, Dinas meminta bantuannya untuk meluruskan informasi yang keliru. Saat itu, hanya ada dua perajin aktif dirinya dan satu pembatik di dekat masjid. 

“Saya enggak mau lagi cerita berlebihan. Yang penting nyata. Biar pengunjung enggak tertipu ekspektasi,” ujarnya.

Antara Pedagang dan Pembatik

Hari ini, nama Kampung Batik memang dikenal. Tapi bukan karena banyaknya pembatik. Justru, yang dominan adalah pedagang. Banyak dari mereka hanya menjual batik dari daerah lain: Pekalongan, Solo, Jogja. Lalu dilabeli “Semarangan".

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved