Semarang
Warisan Tanpa Arah: Iin dan Pencarian Jati Diri Batik Semarangan
Pada satu pagi pada rumah yang terletak di gang sempit pada Kampung Batik Semarang, Iin Windha duduk di antara gulungan kain dan diselimuti aroma .
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
Pada tahun 2022, Iin tercatat menjadi UMKM binaan BRI. Cerita itu bermula saat Iin melakukan pameran di Bandara Ahmad Yani dan ditawari oleh BRI. Apalagi untuk menjadi UMKM BRI tak perlu memiliki pinjaman.
"Baru bergabung 2022, itu pertama kali ikut pameran lagi, terakhir saat Covid-19 saya sudah nggak pernah pameran, akhirnya saat itu diajak pameran di Angkasa Pura, bersama UMKM binaan BRI," ujarnya
Produk batik buatannya diakui oleh tim kurator pihak BRI, sehingga hal itu yang membuat Iin mendapatkan fasilitas binaan dari BRI, untuk mendapatkan segudang ilmu peningkatan kualitas UMKM.
"Terus ada kegiatan BRIlianpreneur. Saya coba ikut kurasi dan masuk. Kemudian ikut pameran ke Jakarta. Jadi tolak ukur produk kita layak jual itu jika bisa ikut pameran di luar Kota Semarang," sambungnya.
Menurutnya, BRI sangat membantu promosi dan pemasarannya.BSelain itu, Iin juga bergabung dengan Rumah BUMN Semarang. Sehingga ia mendapat beberapa fasilitas pelatihan dari Rumah BUMN.
Sementara itu, Koordinator Rumah Kreatif BUMN BRI Semarang, Endang Sulistiawati menjelaskan bahwa Iin merupakan satu dari 3.000 pelaku UMKM di Rumah BUMN.
Mereka memiliki tujuannya masing-masing untuk bergabung di Rumah Kreatif BUMN BRI Semarang.
Ada yang bergabung untuk mempertahankan ideologinya dibalik produk UMKMnya, namun juga ada yang menginginkan produknya bisa dikenal dan dibeli oleh masyarakat luas hingga mancanegara.
Endang menjelaskan bahwa berbagai program dari rumah BUMN akan membantu menggapai mimpi dari pelaku UMKM.
Dia menjelaskan bahwa Rumah BUMN berkomitmen memberikan bantuan kepada para UMKM agar naik kelas.
"Kami memberikan bantuan go modern, go online, go digital, bahkan go global, ini tujuannya untuk membantu para pelaku usaha agar tidak stak dan bisa terus berkembang," jelasnya.
Para UMKM, juga mendapat beragam fasilitas yang diberikan rumah BUMN meliputi pelatihan gratis, modul gratis, dan pendampingan. Pihaknya juga memfasilitasi bazaar, untuk memperkenalkan produk UMKM dan fasilitas penunjang lainnya seperti bantuan legalitas. (Rad)
| Supriyatun 40 Tahun Berjualan Nasi di Semarang, Kini Naik Haji Usai Nabung Rp 10 Ribu Sehari |
|
|---|
| Kota Semarang akan Memulai Rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-479 Melalui Launching |
|
|---|
| Musda HDII Jateng 2026, Penguatan Ekosistem Jadi Sorotan Utama |
|
|---|
| 65 Rumah di Gedawang Banyumanik Terdampak Puting Beliung, Pemkot Semarang Beri Bantuan |
|
|---|
| Gara-gara Tikus, Petani di Tegalwaton Semarang Empat Kali Gagal Panen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/MEMBATIK-Iin-Windha-Pembatik-sekaligus-pemilik-UMKM-Cinta-Batik.jpg)