Semarang
Warisan Tanpa Arah: Iin dan Pencarian Jati Diri Batik Semarangan
Pada satu pagi pada rumah yang terletak di gang sempit pada Kampung Batik Semarang, Iin Windha duduk di antara gulungan kain dan diselimuti aroma .
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
Meski dinas memberikan pelatihan, namun kebanyakan dari masyarakat tak sabar dan memilih untuk menjadi pedagang agar perputaran uang lebih cepat.
“Kadang orang datang, nanya mana batik Semarangan, tapi yang saat itu produksi cuma saya. Kalau dijual terus sebagai kampung perajin, ya itu salah,” kata Iin.
Selain itu banyaknya bakul batik di kampung itu, dirasa membuat perajin batik baru merasa pesimis. Mereka takut karya dan waktunya yang dituangkan pada selembar kain kalah dengan kain jadi dari para pedagang.
Meski demikian, Iin memilih jalan yang berbeda memproduksi sendiri, melatih SDM sendiri.
Pengalamannya itu terkadang membuat dirinya menjadi mentor bagi para kelompok PKK, murid sekolah, mahasiswa ataupun pelaku UMKM yang mau merintis.
Namun bertahan sebagai pembatik di Semarang tak mudah. Bahan baku susah dicari harus beli ke luar kota. SDM loyal dan punya totalitas pun jarang.
“Orang Semarang dasarnya lebih keberdagang. Mereka tak sabar menikmati proses,” katanya getir.
Warisan Tanpa Arah
Batik Semarang adalah warisan yang belum selesai. Tak seperti Solo atau Lasem, motif-motif batik Semarang tidak punya pakem yang kuat.
Apalagi batik Semarangan dipengaruhi Belanda, Tiongkok, dan Keraton. Karakternya cair, cenderung bebas, tapi itu pula yang jadi soal.
Iin sendiri sempat melakukan riset yang panjang untuk mencari tahu jatidiri dari batik Semarangan, yang ditahunya batik Semarangan adalah motif pesisiran, yang ramai akan motif floral.
Pada tahun 2007, Istri Walikota Semarang, Sinto Sukawi mengusulkan bahwa Batik Semarang itu adalah batik motif fengan flora fauna yang dibuat oleh orang Semarang, di Kota Semarang, dengan memberdayakan warga Semarang, dengan warna-warna cerah.
Hanya saja, yang paling menonjol pada batik Semarangan adalah karakternya yang kuat dan memiliki "rasa".
Terdengar seperti sesuatu hal yang abstrak, namun bisa dipahami ketika menjejerkan dua batik dengan motif yang sama antara batik Semarangan dengan daerah lain.
Untuk mengembangkan batik Semarangan, diberikan saran oleh Sinto Sukawi agar menggunakan ikon kota seperti Lawang Sewu, Tugu Muda dan Warak Ngendok sebagai pemicu kreativitas para pembatik.
| Supriyatun 40 Tahun Berjualan Nasi di Semarang, Kini Naik Haji Usai Nabung Rp 10 Ribu Sehari |
|
|---|
| Kota Semarang akan Memulai Rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-479 Melalui Launching |
|
|---|
| Musda HDII Jateng 2026, Penguatan Ekosistem Jadi Sorotan Utama |
|
|---|
| 65 Rumah di Gedawang Banyumanik Terdampak Puting Beliung, Pemkot Semarang Beri Bantuan |
|
|---|
| Gara-gara Tikus, Petani di Tegalwaton Semarang Empat Kali Gagal Panen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/MEMBATIK-Iin-Windha-Pembatik-sekaligus-pemilik-UMKM-Cinta-Batik.jpg)