Minggu, 26 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Semarang

Warisan Tanpa Arah: Iin dan Pencarian Jati Diri Batik Semarangan

Pada satu pagi pada rumah yang terletak di gang sempit pada Kampung Batik Semarang, Iin Windha duduk di antara gulungan kain dan diselimuti aroma .

|
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
(TRIBUNJATENG.COM/REZANDA AKBAR D.)
MEMBATIK - Iin Windha Pembatik sekaligus pemilik UMKM Cinta Batik Semarang di Kampung Batik saat sedang mengeblok kain putih yang bergambar Warak Ngendog. 

Sayangnya, niat itu disalahpahami. Motif-motif itu malah dijadikan pakem, dan para pembatik yang tak melakukan riset hanya berkutat pada motif itu saja. 

Apalagi, ASN diminta memakai batik dengan motif yang sama terus-menerus. Seolah hal itu membuat kreativitas pembatik terkurung.

“Seni itu enggak bisa dibatasi. Motif yang dibakukan itu bikin kami buntu. Motif-motif itu mudah dijiplak, tidak punya kedalaman spiritual,” katanya.

Dia percaya, batik adalah ekspresi jiwa. Ada filosofi, ada doa, ada getaran dalam tiap guratan. Ketika itu dibatasi, maknanya pudar.

Hari ini, di Kampung Batik Gedong Nomor 430, Iin mengelola Cinta Batik Semarang. Ada sepuluh pembatik di bawah naungannya, baik tulis maupun cap. 

Sebagian menggunakan pewarna alam berbahan dasar kulit kayu, daun yang difermentasi, kulit buah. 

Produk mereka pernah dipamerkan sampai ke Singapura. Terkadang juga ada tamu yang datang dari berbagai benua eropa seperti Belgia, Prancis, dan sebagainya.

Harga batiknya bervariasi mulai dari Rp90 ribu untuk sintetis, hingga Rp200 ribu ke atas untuk batik tulis. 

Omzetnya berkisar Rp20–35 juta per bulan. Penjualannya dilakukan online dan offline namun lebih banyak pembeli datang ke galerinya sekaligus untuk mengenal batik Semarangan lebih dalam.

Kini, batik Semarangan memang belum sepenuhnya menemukan bentuknya. Tapi mungkin, bentuk itu tak akan pernah tunggal. Mungkin batik Semarang justru hidup dalam keberagaman, dalam kegelisahan, dalam proses pencarian yang belum usai.

Dan di tengah semua itu, Iin Windha tetap mencanting. Tidak untuk memenuhi pesanan. Tapi untuk menghidupkan ulang batik Semarangan yang krisis identitas agar kota ini tak lupa siapa dirinya.

Tergabung dalam Rumah Kreatif BUMN BRI Semarang 

Dalam perjalanan Iin tak sendiri, dia juga menjadi UMKM binaan BRI serta tergabung dalam rumah Kreatif BUMN BRI. 

Ada beragam manfaat yang dia dapatkan, utamanya untuk mengenalkan dan mengedukasi kepada masyarakat tentang Batik Semarangan.

Iin bisa mengakses program seperti BRiLian Preneur yang memberinya akses ke pelatihan manajemen, foto produk batiknya, ekspor, dan e-commerce agar kain yang berisikan pesan Iin tentang batik Semarangan semakin mendunia.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved