LDII
LDII Soroti Relevansi Semangat Konferensi Asia-Afrika untuk Peran Strategis RI di Ketegangan Global
LDII konsisten mengusung nilai-nilai nasionalisme dan moderasi beragama sebagai bagian dari kontribusi aktif umat Islam dalam membangun Indonesia
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA – Memperingati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA), Indonesia diingatkan kembali akan peran pentingnya sebagai inisiator perdamaian dan tatanan dunia yang adil.
Dalam momentum tersebut, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menekankan pentingnya Indonesia untuk terus mempertahankan jati dirinya sebagai negara berdaulat dan mandiri di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Hal ini sejalan dengan pandangan Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, Prof. Singgih Tri Sulistiyono, yang menyebut bahwa KAA adalah bukti keberanian Indonesia menjadi pemain aktif di panggung dunia, bukan sekadar objek globalisasi.
“Pada saat itu, Indonesia tidak mau menjadi pihak yang hanya dimainkan oleh globalisasi, tetapi justru ingin menjadi pemain dalam globalisasi itu sendiri,” tegas Prof. Singgih yang juga menjabat sebagai Ketua DPP LDII.
Indonesia Harus Ambil Peran di Dunia Multipolar
Prof. Singgih menyoroti pergeseran kekuatan global saat ini, dari dominasi Barat menuju dunia multipolar.
Ia menyebut kehadiran aliansi seperti BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) sebagai cerminan perubahan tersebut. Namun ia mengingatkan, meski tampak multipolar, dunia masih dihantui nuansa bipolar yang menyerupai era Perang Dingin.
“Amerika dan sekutunya masih mempertahankan dominasi global, sementara Tiongkok dan Rusia memimpin blok tandingan. Bahkan di BRICS sendiri ada keberagaman ideologi, tapi mereka punya kepentingan sama: melawan dominasi unipolar,” jelasnya.
Menurut LDII, dalam situasi seperti ini, Indonesia harus kembali meneguhkan perannya sebagai jembatan dunia, sebagaimana semangat KAA 1955, dengan tetap memegang prinsip kesetaraan, non-dominasi, dan kerja sama antarbangsa.
Fondasi Dalam Negeri Jadi Kunci
Namun LDII menggarisbawahi bahwa kekuatan Indonesia untuk berperan strategis di panggung global tidak akan terwujud tanpa fondasi dalam negeri yang kokoh. Prof. Singgih mengingatkan, “Kalau keadaan dalam negeri kita keropos, maka bagaimanapun juga kita tidak akan memiliki ruang dalam pergaulan internasional.”
LDII melihat bahwa membangun ketahanan nasional tidak cukup hanya dari sisi ekonomi atau militer, tetapi juga dari sisi moral, ideologi, dan semangat kebangsaan. Dalam hal ini, nilai-nilai Pancasila, Proklamasi Kemerdekaan, dan semangat gotong royong harus terus dihidupkan dan dijadikan pijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Dengan memperkuat kembali semangat negara Pancasila, kita bisa menjadi negara yang maju dan berwibawa. Baru setelah itu, kita bisa ikut memberikan kontribusi nyata dalam membentuk tata dunia baru yang adil dan berkeadaban,” ujar Prof. Singgih menutup pernyataannya.
LDII secara konsisten mengusung nilai-nilai nasionalisme dan moderasi beragama sebagai bagian dari kontribusi aktif umat Islam dalam membangun Indonesia yang damai dan berdaya saing di kancah internasional.
Baca juga: LDII Kerahkan 450 Personel Rukyat Hilal: Dukung Penentuan Awal Ramadan dan Syawal 1446 H
Baca juga: Ketum DPP LDII Ajak Jadikan Idul Fitri sebagai Momentum Pembenahan Demokrasi dan Akhlak Bangsa
Baca juga: Salat Id LDII Kota Semarang : Media Sosial dan Tantangan Kesopanan di Era Digital
Apa Itu Sekolah Virtual Kebangsaan II yang Digelar LDII di Hotel Santika Premier Semarang Hari Ini? |
![]() |
---|
DPP LDII Gelar Sekolah Virtual Kebangsaan II: Menghidupkan Pancasila Menuju Kebangkitan Nasional 2.0 |
![]() |
---|
Gelar Kerja Bakti Nasional, LDII Ajak Warga Peduli Lingkungan dan Nasionalisme |
![]() |
---|
Mendikdasmen Abdul Mu’ti Dorong LDII Perkuat Pendidikan Karakter |
![]() |
---|
Webinar LDII Jateng Dihadiri 2000 Peserta, Dorong Toleransi dan Kerukunan Umat |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.