Pertanian
Revolusi Pertanian dari Desa, Hendi Pelopori Bertani Melon dengan Smart Hidroponik
Budidaya tanaman dengan metode hidroponik dianggap solusi atas keterbatasan lahan.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: rival al manaf
Di salah satu green house dengan brand Flos Hidroponik miliknya, Desa Bansari, tanaman melon kualitas premium tumbuh rimbun menghijaukan seisi ruangan.
Buah melon berbagai jenis yang siap petik bergelantungan. Ragam bentuk dan warna melon yang terang tampak menggoda.
Hujan deras yang turun tak sampai masuk ke dalam. Hawa dingin pengunungan tak mampu menembus ruang. Di dalam green house, suhu udara tetap sedang.
Hendi punya alasan tersendiri memilih membudidayakan melon di banding komoditas lain. Melon punya daya simpan lebih lama, sehingga tak khawatir untuk pengiriman jarak jauh, bahkan ke luar negeri.
“Kalau sayur itu daya simpan sebentar, terbatas waktu penyimpanan dan area pemasaran,”katanya
Melon yang dibudidayakan Hendi adalah jenis melon premium, di antaranya Japanese Melon dan Korean Melon dengan target pasar khusus.
Hendi tak bingung soal pemasaran. Ia sedari awal sudah melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan. Harga pun sudah ditetapkan di awal.
Dengan kontrak harga di awal, ia tak terpengaruh dengan fluktuasi harga melon di pasaran.
Setiap kali panen, melonnya langsung dikirim ke perusahaan untuk ditukar cuan. Berapapun hasil panennya langsung terserap pasar. Bahkan ia mengaku kewalahan karena kebutuhan yang besar.
“Kebutuhannya besar, tapi stok masih terbatas. Butuh banyak green house,”katanya
Tak hanya pasar nasional, Hendi bahkan sempat mengekspor melonnya sampai luar negeri atau Singapura.
Efektif dan Efisien
Selain memiliki green house yang dibangun dengan dana pribadi, Hendi juga mengelola beberapa green house bekerja sama dengan kelompok tani setempat. Ia dipercaya memimpin Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rahayu Makmur yang membawahi beberapa kelompok tani.
Hendi berhasil menginspirasi para petani untuk menginovasi usaha pertaniannya.
Hanya saja, untuk bertani hidroponik, kebanyakan petani masih terkendala modal. Ia memaklumi lantaran modal awal membangun infrastruktur hidroponik cukup mahal, mencapai ratusan juta rupiah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/RAWAT-TANAMAN-Seorang-siswa-Praktik-Pengalaman-Lapangan-PPL-SMKN.jpg)