Pertanian
Revolusi Pertanian dari Desa, Hendi Pelopori Bertani Melon dengan Smart Hidroponik
Budidaya tanaman dengan metode hidroponik dianggap solusi atas keterbatasan lahan.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: rival al manaf
KUR adalah program pemerintah untuk membantu akses pembiayaan bagi masyarakat, khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Hendi sendiri meminjam KUR karena butuh biaya produksi untuk usaha pertanian hidroponiknya.
Modal bertani hidroponik bukan hanya untuk membangun infrastruktur atau green house, namun juga untuk biaya perawatan maupun sarana penunjang lainnya.
“Pinjam KUR untuk biaya produksi,”katanya
Hendi tidak mau mengeruk keuntungan hanya untuk pribadi. Percuma ia sukses, jika tidak mau berbagi. Ia mencoba berkolaborasi dengan para petani. Hendi juga diamanati sebagai Ketua Gapoktan Rahayu Makmur.
Keberhasilan pertanian hidroponik di Desa Bansari menarik perhatian Kementerian Pertanian. Pemerintah pusat menggelontorkan bantuan pembangunan green house untuk pengembangan.
Pemerintah membangun 9 green house di wilayah Kecamatan Bansari, 4 di antaranya dibangun di Desa Bansari untuk dikelola kelompok tani.
Semakin banyak green house membuat usaha pertanian hidroponik di Desa Bansari kian berkembang. Produktivitas panen bisa lebih digenjot untuk memenuhi permintaan.
“Keberhasilan ini karena kita mau kolaborasi. Baik dengan petani, akademisi, pemerintah dan BUMN,”katanya
Keberadaan green house diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Hendi menginginkan, dengan usaha tersebut, kelompok tani tidak lagi berparadigma untuk selalu mencari bantuan. Tetapi bisa mandiri dengan unit usaha yang menghasilkan.
Para petani yang tergabung dalam Gapoktan Rahayu Makmur kini juga tidak mudah dipermainkan pasar. Sayur dan buah yang mereka tanam di green house sudah di-booking perusahaan dengan harga di awal.
“Misal mentimun, kita sepakat kontrak di harga Rp 3000, itu sudah untung,”katanya
Smart Hidroponik
Menariknya, hidroponik yang dikembangkan di Desa Bansari dilengkapi dengan teknologi tepat guna menggunakan konsep smart hidroponik. Teknologi itu berfungsi untuk mengontrol suhu dan kelembaban udara, hingga distribusi nutrisi ke setiap tanaman.
Canggihnya, kerja-kerja tersebut bisa dimonitor atau dikendalikan lewat smartphone yang terhubung ke internet.
Penggunaan teknologi itu, menurut Hendi sangat menguntungkan karena bisa menghemat pekerjaan.
“Misal suhu terlalu tinggi, nanti kipas menyala. Dengan alat ini pekerjaan yang biasanya dikerjakan banyak orang, bisa dikelola 1 orang,”katanya
Karena daya tariknya, Flos Hidroponik Bansari kini juga dibuka untuk wisata edukasi bagi masyarakat umum. Sekaligus jadi pusat studi atau penelitian bagi civitas akademika.
Suko dan dua temannya, siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bansari telaten merawat tanaman melon di dalam green house, Minggu (20/4/2025).
Para siswa jurusan pertanian itu sedang menjalani tugas sekolah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Suko tak sulit mendapatkan tempat PPL untuk belajar dan mengaplikasikan ilmunya di sekolah.
Di wilayahnya sendiri, pertaniannya sudah maju dengan konsep hidroponik.
“PPL di sini menyenangkan, bisa belajar dan praktik langsung,”katanya
Di Flos Hidroponik, Suko dan teman-temannya bukan hanya belajar teori, tapi juga mempraktikkannya langsung cara bertani hidroponik, mulai penyiapan media tanam, penanaman, perawatan, hingga panen.
Pembelajaran langsung di lapangan seperti ini dirasanya lebih mengena di banding belajar teori di sekolah.
Pengetahuan yang didapat selama PPL di Flos Hidroponik juga menjadi bekal berharga bagi dia di masa mendatang. Wawasannya soal dunia pertanian juga semakin matang.
“Sebenarnya kalau suruh merawat hidroponik sendiri sudah bisa, cuma bangun green housenya yang mahal,”katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/RAWAT-TANAMAN-Seorang-siswa-Praktik-Pengalaman-Lapangan-PPL-SMKN.jpg)