Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pertanian

Revolusi Pertanian dari Desa, Hendi Pelopori Bertani Melon dengan Smart Hidroponik

Budidaya tanaman dengan metode hidroponik dianggap solusi atas keterbatasan lahan.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: rival al manaf
Tribun Jateng/ Khoirul Muzaki
RAWAT TANAMAN- Seorang siswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) SMKN Bansari merawat tanaman melon di Flos Hidroponik Desa Bansari Kecamatan Bansari, Temanggung, Rabu (23/4/2025). 

Modal sebesar itu tentu sulit dijangkau petani, khususnya dari kalangan menengah ke bawah.     

“Untuk membangun green house seluas 330 meter persegi, butuh biaya Rp 150 juta. Bisa untuk 1000 tanaman,”katanya

Tapi hendi meyakinkan, jika dihitung keseluruhan, bertani menggunakan green house sebenarnya lebih hemat di banding pola konvensional. Pada pertanian konvensional, modal terbesar bertani biasanya pada olah lahan hingga perawatan, baik pemupukan, pengobatan, hingga pembersihan gulma.

Bertani di alam terbuka justru dinilainya memiliki risiko lebih besar. Terutama ancaman serangan hama dan virus yang bisa menurunkan produktivitas lahan hingga gagal panen.

Cuaca ekstrem membuat pertumbuhan bakteri dan hama sangat cepat hingga menggerogoti tanaman.

Jikapun bisa diatasi, petani konvensional harus mengeluarkan modal besar untuk membeli obat dan pupuk yang lebih intens.

“Kalau di lahan terbuka kurang efisien, biaya perawatan lebih besar,”katanya

Beda dengan hidroponik yang tidak begitu terpengaruh cuaca ekstrem. Suhu yang terkontrol membuat hama dan bakteri lebih terkendali. Dengan minimnya hama dan penyakit, otomatis biaya perawatan, khususnya untuk membeli obat-obatan bisa ditekan.

Pemberian pupuk atau nutrisi juga lebih irit karena langsung terserap tanaman, tidak terbuang karena hujan atau menguap karena panas seperti di lahan terbuka.

Nutrisi diberikan sesuai kebutuhan tanaman, sehingga kualitas pertumbuhan dan hasil panen lebih optimal. Tak heran, meski di lahan dengan luasan terbatas, produktivitas panen hidroponik bisa lebih maksimal.

Infrastruktur hidroponik yang dibangun dengan biaya mahal di awal, menurut dia, sepadan dengan tingkat keawetannya yang sampai puluhan tahun. Bagi Hendi, membangun green house untuk hidroponik adalah investasi jangka panjang.

“Bangunan bisa bertahan sampai 25 tahun, selama itu kita bisa menghemat biaya perawatan dan hasil panen maksimal. Kalau dihitung-hitung, lebih hemat sebenarnya.

Keuntungan misal 1000 tanaman saja, harga sekilo melon Rp 30 ribu,”katanya

Akses KUR BRI dan Kolaborasi

Untuk mengembangkan usaha pertaniannya, Hendi butuh modal tambahan. Hendi mengakses modal ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved