Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Seminar Nasional UIN Saizu: Ahmad Tohari dan Nassirun Bedah Warisan Budaya Banyumas

Budayawan Ahmad Tohari dan Nassirun Kupas Sejarah Budaya Banyumas dalam Seminar Nasional di UIN Saizu

Tayang:
Editor: Editor Bisnis
Ist
Budayawan Ahmad Tohari dan Nassirun Kupas Sejarah Budaya Banyumas dalam Seminar Nasional di UIN Saizu 

 

TRIBUNJATENG.COM- Himpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (HMPS SPI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk "Asal-Usul Dialek Banyumasan dan Babad Banyumas".

Seminar ini menghadirkan dua tokoh besar budaya Banyumas: Ahmad Tohari, Budayawan sekaligus penulis ternama, dan Nassirun Purwokartun, penulis serial Babad Banyumas yang juga dikenal sebagai murid dari Ahmad Tohari.

Acara prestisius ini berlangsung di Auditorium Utama UIN Saizu Purwokerto pada Senin, 16 Juni 2025 lalu. Acara ini berhasil menarik perhatian para akademisi, budayawan, serta mahasiswa dari berbagai daerah.

Ahmad Tohari Tegaskan Pentingnya Kuasai Bahasa Daerah

Dalam sesi pertama, Ahmad Tohari mengajak peserta untuk mencintai dan menguasai bahasa daerah sebagai bentuk penghormatan terhadap jati diri.

Tak hanya menyampaikan materi, ia juga berbicara menggunakan dialek Banyumasan yang khas, memperkuat pesan budaya yang ia bawa.

“Manusia Indonesia harus mahir berbahasa Indonesia, nek wong Banyumas ya kudu teyeng basa Banyumas,” tegas Ahmad Tohari, disambut tepuk tangan meriah dari peserta seminar.

Menurutnya, penguasaan bahasa daerah bukanlah bentuk kemunduran, tetapi justru bagian dari pelestarian identitas lokal yang memperkaya kebudayaan nasional.

Nassirun Bongkar Fakta Sejarah dan Naskah Babad Banyumas

Pada sesi kedua, giliran Nassirun Purwokartun yang berbicara. Ia memaparkan pentingnya Babad Banyumas sebagai sumber sejarah yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Meski telah menulis 101 buku serial Babad Banyumas, Nassirun baru memilih dan menggarap 10 naskah dari total 160 naskah yang tersedia. “Saya memilih 10 naskah saja, karena yang 150 biar dikerjakan oleh orang lain,” ungkap Nassirun.

Ia juga menjelaskan bahwa dulu Babad sering dianggap sebagai dongeng karena masyarakat belum bisa membaca. Maka, warisan ini disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi.

Warisan Leluhur yang Harus Dilestarikan

Seminar ini tak hanya memberi wawasan akademik, tapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya melestarikan dialek Banyumasan dan Babad Banyumas sebagai warisan budaya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved