UIN SAIZU Purwokerto
Seminar Nasional UIN Saizu: Ahmad Tohari dan Nassirun Bedah Warisan Budaya Banyumas
Budayawan Ahmad Tohari dan Nassirun Kupas Sejarah Budaya Banyumas dalam Seminar Nasional di UIN Saizu
TRIBUNJATENG.COM- Himpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (HMPS SPI) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk "Asal-Usul Dialek Banyumasan dan Babad Banyumas".
Seminar ini menghadirkan dua tokoh besar budaya Banyumas: Ahmad Tohari, Budayawan sekaligus penulis ternama, dan Nassirun Purwokartun, penulis serial Babad Banyumas yang juga dikenal sebagai murid dari Ahmad Tohari.
Acara prestisius ini berlangsung di Auditorium Utama UIN Saizu Purwokerto pada Senin, 16 Juni 2025 lalu. Acara ini berhasil menarik perhatian para akademisi, budayawan, serta mahasiswa dari berbagai daerah.
Ahmad Tohari Tegaskan Pentingnya Kuasai Bahasa Daerah
Dalam sesi pertama, Ahmad Tohari mengajak peserta untuk mencintai dan menguasai bahasa daerah sebagai bentuk penghormatan terhadap jati diri.
Tak hanya menyampaikan materi, ia juga berbicara menggunakan dialek Banyumasan yang khas, memperkuat pesan budaya yang ia bawa.
“Manusia Indonesia harus mahir berbahasa Indonesia, nek wong Banyumas ya kudu teyeng basa Banyumas,” tegas Ahmad Tohari, disambut tepuk tangan meriah dari peserta seminar.
Menurutnya, penguasaan bahasa daerah bukanlah bentuk kemunduran, tetapi justru bagian dari pelestarian identitas lokal yang memperkaya kebudayaan nasional.
Nassirun Bongkar Fakta Sejarah dan Naskah Babad Banyumas
Pada sesi kedua, giliran Nassirun Purwokartun yang berbicara. Ia memaparkan pentingnya Babad Banyumas sebagai sumber sejarah yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Meski telah menulis 101 buku serial Babad Banyumas, Nassirun baru memilih dan menggarap 10 naskah dari total 160 naskah yang tersedia. “Saya memilih 10 naskah saja, karena yang 150 biar dikerjakan oleh orang lain,” ungkap Nassirun.
Ia juga menjelaskan bahwa dulu Babad sering dianggap sebagai dongeng karena masyarakat belum bisa membaca. Maka, warisan ini disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi.
Warisan Leluhur yang Harus Dilestarikan
Seminar ini tak hanya memberi wawasan akademik, tapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya melestarikan dialek Banyumasan dan Babad Banyumas sebagai warisan budaya.
| SABUDAYA Resmi Dibentuk, Kebangkitan Sastra dan Budaya Mahasiswa UIN Saizu Dimulai |
|
|---|
| Kembangkan Aplikasi Spiritual Care, Aris Fitriyani Menjadi Doktor Ke-87 Pascasarjana UIN Saizu |
|
|---|
| Menteri Agama Tegaskan Pesantren Harus Jadi Ruang Aman bagi Anak, Kekerasan Tak Boleh Ditoleransi |
|
|---|
| Hadirkan Dewan Pengawas BLU, UIN Saizu Perkuat Tata Kelola Keuangan dan Optimalisasi Layanan Kampus |
|
|---|
| Prof Ridwan: UIN Saizu Tidak Bisa Lepas dari Peran Media |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Uin-saizu-2206739oor.jpg)