Horizzon
Giant Sea Wall Menjawab Masa Depan IKN
Solusi yang paling rasional adalah membangun tanggul laut rakasasa atau giant sea wall.
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
JERITAN warga Sayung, Demak, akhirnya didengar juga oleh Jakarta. Banjir rob laut yang terus menghantui mereka akhirnya mulai ada titik terang terkait solusinya.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan, masalah banjir rob laut yang mengancam pesisir utara Jawa merupakan masalah nasional yang harus segera dicari solusinya. Dan, solusi yang paling rasional adalah membangun tanggul laut rakasasa atau giant sea wall.
Tak main-main, proyek sepanjang 500 kilometer yang membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur, ini diperkirakan akan menelan biaya yang tak sedikit. Prabowo mengatakan, butuh biaya sekira US$ 80 miliar atau Rp 1.298 triliun untuk menjawab permasalahan ini.
Untuk itulah Prabowo memutar otak demi bisa menyelesaikan pekerjaan yang diperkirakan membutuhkan waktu antara 15 hingga 20 tahun ini. Sejumlah negara diajak untuk ikut membantu proyek ini.
Tak terkecuali DKI Jakarta. Khusus untuk Jakarta, lantaran memiliki uang yang cukup besar, Prabowo meminta Jakarta urunan untuk menyelesaikan masalah ini.
Tanggul laut raksasa, rasanya, memang menjadi solusi yang paling rasional untuk mengatasi problem di sepanjang pesisir utara Jawa. Meski proyek ini tentu juga menimbulkan sejumlah dampak yang bakal menjadi kontroversi. Pembangunan tanggul laut raksasa dipastikan juga akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, termasuk dampak langsung yang bakal dialami oleh nelayan.
Saya percaya, hidup kadang memang harus memilih. Dan, rasanya, saya harus standing bahwa proyek ini harus kita dukung penuh, meski di dalamnya mengandung dampak negatif yang tak terhindarkan.
Kita semua tahu, banjir rob tidak hanya soal air masuk ke pekarangan, rumah dan bahkan di Demak sudah sampai ke jalan nasional. Banjir rob juga memberikan dampak ekonomi dan sosial yang tak kecil.
Tercatat, untuk Jawa tengah ada sembilan daerah yang menderita akibat banjir rob ini. Sebut saja Kota Semarang, Demak, Brebes, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, Kendal, Pati, hingga Rembang. Perlu dicatat, Kota Semarang dan Demak adalah yang paling parah.
Derita akibat banjir rob laut ini memberikan dampak langsung kepada ribuan kepala keluarga yang kehilangan tenpat tinggal. Untuk itulah dukungan atas proyek ini layak untuk disuarakan.
Pilihan Prabowo yang lebih memrioritaskan penanganan masalah ini ketimbang melanjutkan proyek mercusuar Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tak jelas harus dimaknai sebagai langkah arif seorang presiden. Untuk menunjukkan keseriusan terkait giant sea wall ini, Prabowo bahkan berencana untuk segera membentuk Badan Otorita Giant Sea Wall.
Pilihan Prabowo tidak boleh dilihat sebagai sebuah keputusan dengan perspektif yang berorientasi ke Jawa. Pilihan Prabowo adalah pilihan rasional yang lebih urgen dibanding melanjutkan proyek IKN.
Kita harus paham, memilih membangun giant sea wall tentu memiliki konsekuensi panjang. Satu di antaranya adalah mengalihkan anggaran yang sebelumnya diproyeksikan untuk IKN, maka harus dialihkan ke proyek yang lebih jelas manfaat dan peruntukannya.
Secara politis, sikap Prabowo ini juga harus dimaknai sebagai sikap politik yang tegas. Dengan membangun giant sea wall, tampaknya ini juga menjadi jawaban atas masa depan IKN yang akan mendekati ke skenario yang pernah saya pikirkan, yaitu akan segera berubah nama menjadi Monumen IKN.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)