Horizzon
‘Mengadili’ Ahmad Luthfi
Tidak adil jika membandingkan kinerja Ahmad Luthfi dan Deddy Mulyadi hanya dengan parameter sempit, yaitu jalan dan pajak kendaraan bermotor belaka
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
SPONTAN sekaligus natural dan apa adanya, barangkali adalah atribusi lain dari sosok Ahmad Luthfi, gubernur Jawa Tengah, yang jarang diperhatikan publik.
Sisi lain dari Ahmad Luthfi ini tak sengaja terungkap, pada Selasa (7/4/2026) kemarin, ketika orang nomor satu di Pemprov Jawa Tengah ini hadir di kantor Tribun Solo, yang tengah merayakan ulang tahun yang ke-10.
Datang hampir bersamaan dengan Wali Kota Solo, Respati Achmad Ardianto, Ahmad Luthfi ditodong untuk speak-up, memberikan ucapan yang naskahnya sudah disiapkan oleh kawan-kawan Tribun Solo.
Seharusnya, ia tinggal baca naskah yang sudah ditampilkan di telepromter. Akan tetapi rupanya Ahmad Luthfi memilih skenario lain.
Naskah yang sudah disiapkan hanya diobaca sekilas untuk dipahami isinya, kemudian ia nerocos di depan kamera dengan gaya dan bahasanya sendiri. Meski hasilnya sedikit belepotan, ia tetap senyum dan mengakhiri dengan jingle khasnya, 'petarung!'
Nasib serupa juga terjadi pada take video kedua.
Kebetulan kawan-kawan Tribun Solo juga meminta Ahmad Luthfi take video ucapan HUT Ke-13 Tribun Jateng, yang bakal digelar pada 29 April 2026 mendatang.
Senasib dengan naskah pertama, naskah kedua yang disiapkan dan tinggal baca di telepromter juga disia-siakan oleh Ahmad Luthfi. Ia memilih mengambil risiko belepotan, ia memilih dengan gaya dan bhasanya sendiri.
Boleh jadi, atribusi spontan, natural dan apa adanya ini terkesan berlebihan disematkan ke Ahmad Luthfi hanya didasari pada dua adegan sederhaca itu.
Akan tetapi dari situ, saya terpancing untuk lebih nakal mengulik lebih dalam. Apalagi ketika bicara tentang Ahmad Lutfi, semua tahu bahwa ia tengah jadi 'korban' netizen yang sedang membandingkan kinerjanya dengan Deddy Mulyadi, gubernur Jawa Barat.
Sebelum lanjut, disclaimer dulu, sedari awal saya merasa ada yang tak fair ketika kinerja Ahmad Luthfi dibandingkan dengan gubernur lain, manapun itu, sementara 'medan tempur' yang dikelola berbeda.
Secara subjektif, Ahmad Luthfi yang mantan polisi tentu tidak akan seluwes kepala daerah lain, yang memang memiliki basic sebagai politikus.
Di samping itu, Luthfi—yang sekali lagi mantan polisi—ini juga ‘pemain baru’ di dunia sosial media. Luthfi mungkin tak gampang adaptasi dengan dasar-dasar benar dan salah hanya ditentukan oleh jumlah pembenci dan pemuja yang bermodal jempol belaka tanpa punya filter pikiran yang terbuka.
Saya jadi tertantang untuk membandingkan data-data dan angka-angka riil antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, yang belakangan ini menjadi bahan gorengan netizen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)