Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

IHSG dalam Tren Pelemahan, Bos SIDO Ingatkan Pasar Modal Bukan Arena Perjudian

Pasar modal bukanlah arena perjudian. Berinvestasi di saham berarti menanamkan modal pada bisnis nyata yang produktif.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: Vito
TRIBUN JATENG/Eka Yulianti Fajlin
IRWAN HIDAYAT: Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat. (TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat dalam tren pelemahan akibat dampak perang Amerika Serikat (AS) yang didukung Israel melawan Iran.

Dalam sepekan lalu, IHSG terkoreksi 3,22 persen, dengan ditutup melemah 3,05 persen secara harian pada Jumat (13/3), ke level 7.137,21.

Kondisi itu melanjutkan tren pada pekan sebelumnya, di mana IHSG sudah lebih dulu mencatat penurunan 7,8 persen.

Di tengah tren itu, Direktur Sido Muncul (SIDO) Irwan Hidayat mengajak masyarakat Indonesia mulai mengubah cara pandang dalam mengelola keuangan.

Menurut dia, kebiasaan menyimpan uang tanpa pengembangan sudah saatnya diubah. Menurutnya, masyarakat perlu mulai melirik investasi saham sebagai satu instrumen yang dapat memberikan nilai tambah bagi masa depan.

Namun, ia menegaskan, saham bukan tempat untuk bermain, melainkan sarana berinvestasi secara serius pada perusahaan yang dikelola dengan baik.

"Kalau semua berinvestasi di saham, pertama itu lebih menguntungkan. Tapi ingat, jangan 'bermain' saham, melainkan berinvestasi di saham," katanya, pekan lalu. 

Irwan menyoroti ketimpangan jumlah investor saham di Indonesia dibandingkan dengan negara maju seperti AS.

Saat ini, baru sekitar 7,5 persen atau 21 juta penduduk Indonesia yang berinvestasi di saham. Jumlah itu jauh tertinggal dari AS yang sudah mencapai 62 persen.

Dia menambahkan, rendahnya partisipasi itu sebenarnya menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk mulai masuk ke pasar modal, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui perusahaan-perusahaan yang dikelola dengan baik.

​Ia menyebut, perbedaan mendasar antara bermain dan berinvestasi terletak pada pola pikir dan strategi. Investasi saham memerlukan keseriusan dalam memilih emiten atau perusahaan yang memiliki tata kelola yang sehat.

​"Nanti kalau punya uang Rp 10 juta, Rp 20 juta, hingga Rp 100 juta, berinvestasilah. Itu jauh lebih menguntungkan daripada sekadar disimpan di bank. Tapi kalau bermain saham, nah itu yang tidak betul," tukasnya.

Irwan mengingatkan, pasar modal bukanlah arena perjudian. Berinvestasi di saham berarti menanamkan modal pada bisnis nyata yang produktif.

​Ia berharap, pesan itu dapat menjangkau lebih banyak orang agar mereka mulai melek literasi keuangan.

Dengan beralih dari kebiasaan menabung konvensional ke investasi yang terukur, masyarakat diharapkan bisa mendapatkan nilai tambah yang lebih besar bagi kesejahteraan mereka di masa depan. "Jangan bermain-main. Berinvestasi itu serius," tandasnya. (Eka Yulianti Fajlin)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved