Tribunjateng Hari ini
Benjamin Netanyahu Murka, 4 Sekutu Dekat Israel Akui Negara Palestina
PM Israel, benjamin Netanyahu murka, setelah 4 negara sekutu dekat Israel: Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal, mengakui negara Palestina.
Penulis: Yayan | Editor: M Syofri Kurniawan
NEW YORK, TRIBUN – Empat negara yang selama ini menjadi sekutu dekat Israel: Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal, secara resmi mengaku negara Palestina, pada Minggu (21/9/).
Pengakuan keempat negara tersebut membuat Israel semakin terpojok dalam percaturan politik global.
Perdana Menteri Israel (PM) Benjamin Netanyahu merespons negara-negara yang mengakui negara Palestina.
Netanyahu sangat murka atas langkah negara-negara yang sebelumnya menjadi sekutu Israel tersebut.
"Saya punya pesan yang jelas bagi para pemimpin yang mengakui negara Palestina setelah pembantaian mengerikan pada 7 Oktober: Anda memberikan imbalan besar kepada teror," kata Netanyahu.
Baca juga: PBB Nyatakan Israel Jelas Niat Lakukan Genosida di Gaza, Mirip Tragedi Rwanda 1994
Baca juga: 10 Negara Anggota PBB Tolak Resolusi Dua Negara Palestina-Israel
Diketahui, serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan 251 lainnya disandera, menurut penghitungan Israel.
Sementara, serangan militer Israel sebagai balasan telah menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina, sebagian besar dari mereka warga sipil, menurut otoritas kesehatan setempat yang diakui PBB.
Pergeseran besar
Selain keempat negara tersebut di atas, Perancis, Belgia, dan sejumlah negara lain diperkirakan akan segera mengakui negara Palestina di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat (AS).
Langkah sejumlah negara ini menandai pergeseran besar di kalangan Barat, sebagaimana dilansir AFP. Perubahan sikap terjadi di tengah serangan Israel yang semakin intensif di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sejak saat itu, Gaza mengalami kehancuran luas, kelaparan yang dinyatakan PBB, serta jumlah korban tewas yang terus bertambah.
Sebelum mengakui Palestina, Pemerintah Inggris sempat menghadapi tekanan publik yang besar. Aksi unjuk rasa mendukung Palestina digelar setiap bulan di berbagai kota, menuntut perubahan sikap pemerintah.
Inggris sendiri memiliki sejarah panjang terkait pendirian negara Israel melalui Deklarasi Balfour pada 1917. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan, pengakuan Palestina dilakukan setelah melihat kengerian yang terus berkembang di Timur Tengah.
"Kami mengakui negara Palestina untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian bagi rakyat Palestina dan Israel, serta solusi dua negara," kata Starmer. Dia kembali menyerukan gencatan senjata dan menuntut Hamas membebaskan semua sandera Israel.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menegaskan, keputusan negaranya adalah bentuk pengakuan terhadap aspirasi sah dan lama rakyat Palestina. Sementara Menteri Luar Negeri Portugal Paulo Rangel menekankan bahwa solusi dua negara merupakan satu-satunya jalan menuju perdamaian yang adil dan langgeng.
Meski sebagian besar bersifat simbolis, pengakuan dari empat negara itu menempatkan mereka berseberangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Sebelumnya, usai bertemu dengan Starmer, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa salah satu dari sedikit perbedaan antara keduanya adalah soal pengakuan negara Palestina.
Presiden Perancis Emmanuel Macron juga menyatakan dukungan terhadap pengakuan Palestina. Akan tetapi menegaskan bahwa pembebasan sandera Hamas dari 2023 adalah syarat mutlak sebelum membuka kedutaan besar di Palestina. (Kompas.com)
| Siswa Asal Purwokerto Diterima di 10 Universitas Luar Negeri |
|
|---|
| Dalami Kasus Fadia, KPK Periksa 63 Pejabat dan ASN di Pemkab Pekalongan |
|
|---|
| Taj Yasin Minta Percepat Perbaikan Rumah Rusak Terdampak Banjir Demak |
|
|---|
| Luthfi: Pejabat di Pemprov Jateng Wajib Terbuka pada Kritik Media |
|
|---|
| Sidang Perkara Tongtek Maut di PN Pati, Keluarga Korban Lempar Sandal ke Mobil Tahanan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250923_Tribunjateng-Hari-Ini.jpg)