Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Benjamin Netanyahu Murka, 4 Sekutu Dekat Israel Akui Negara Palestina

PM Israel, benjamin Netanyahu murka, setelah 4 negara sekutu dekat Israel: Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal, mengakui negara Palestina.

|
Penulis: Yayan | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/TRI SUSANTO
Tribunjateng Hari Ini Selasa 23 September 2025. (TRIBUN JATENG/TRI SUSANTO) 

NEW YORK, TRIBUN – Empat negara yang selama ini menjadi sekutu dekat Israel: Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal, secara resmi mengaku negara Palestina, pada Minggu (21/9/).

Pengakuan keempat negara tersebut membuat Israel semakin terpojok dalam percaturan politik global.

Perdana Menteri Israel (PM) Benjamin Netanyahu merespons negara-negara yang mengakui negara Palestina.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (JN/tangkap layar)

Netanyahu sangat murka atas langkah negara-negara yang sebelumnya menjadi sekutu Israel tersebut. 

"Saya punya pesan yang jelas bagi para pemimpin yang mengakui negara Palestina setelah pembantaian mengerikan pada 7 Oktober: Anda memberikan imbalan besar kepada teror," kata Netanyahu.  

Baca juga: PBB Nyatakan Israel Jelas Niat Lakukan Genosida di Gaza, Mirip Tragedi Rwanda 1994

Baca juga: 10 Negara Anggota PBB Tolak Resolusi Dua Negara Palestina-Israel

Diketahui, serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan 251 lainnya disandera, menurut penghitungan Israel.

Sementara, serangan militer Israel sebagai balasan telah menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina, sebagian besar dari mereka warga sipil, menurut otoritas kesehatan setempat yang diakui PBB. 

Pergeseran besar

Selain keempat negara tersebut di atas, Perancis, Belgia, dan sejumlah negara lain diperkirakan akan segera mengakui negara Palestina di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat (AS). 

Langkah sejumlah negara ini menandai pergeseran besar di kalangan Barat, sebagaimana dilansir AFP. Perubahan sikap terjadi di tengah serangan Israel yang semakin intensif di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sejak saat itu, Gaza mengalami kehancuran luas, kelaparan yang dinyatakan PBB, serta jumlah korban tewas yang terus bertambah. 

Sebelum mengakui Palestina, Pemerintah Inggris sempat menghadapi tekanan publik yang besar. Aksi unjuk rasa mendukung Palestina digelar setiap bulan di berbagai kota, menuntut perubahan sikap pemerintah. 

Inggris sendiri memiliki sejarah panjang terkait pendirian negara Israel melalui Deklarasi Balfour pada 1917. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan, pengakuan Palestina dilakukan setelah melihat kengerian yang terus berkembang di Timur Tengah.  

"Kami mengakui negara Palestina untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian bagi rakyat Palestina dan Israel, serta solusi dua negara," kata Starmer. Dia kembali menyerukan gencatan senjata dan menuntut Hamas membebaskan semua sandera Israel

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menegaskan, keputusan negaranya adalah bentuk pengakuan terhadap aspirasi sah dan lama rakyat Palestina. Sementara Menteri Luar Negeri Portugal Paulo Rangel menekankan bahwa solusi dua negara merupakan satu-satunya jalan menuju perdamaian yang adil dan langgeng. 

Meski sebagian besar bersifat simbolis, pengakuan dari empat negara itu menempatkan mereka berseberangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Sebelumnya, usai bertemu dengan Starmer, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa salah satu dari sedikit perbedaan antara keduanya adalah soal pengakuan negara Palestina

Presiden Perancis Emmanuel Macron juga menyatakan dukungan terhadap pengakuan Palestina. Akan tetapi menegaskan bahwa pembebasan sandera Hamas dari 2023 adalah syarat mutlak sebelum membuka kedutaan besar di Palestina. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved