Berita Jateng
Mengapa Harus Pakai Rukyatul Hilal? Prof Ahmad Izzuddin Ungkap Dasar Ilmiah Sidang Isbat
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, perbincangan tentang rukyatul hilal kembali mengemuka.
Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, perbincangan tentang rukyatul hilal kembali mengemuka.
Pemerintah akan menggelar sidang isbat untuk menentukan awal puasa.
Namun, mengapa rukyatul hilal masih menjadi rujukan di era teknologi astronomi yang semakin maju?
Pertanyaan itu dibahas dalam program Tribun Topik bersama News Manager Tribun Jateng, Iswododo, dengan narasumber Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo, Prof Dr H Ahmad Izzuddin MAg.
Kegiatan tersebut berlangsung di tengah proses perkuliahan mahasiswa Ilmu Falak, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.
Di depan puluhan mahasiswa, Prof Ahmad Izzuddin menjelaskan bahwa dasar penentuan awal Ramadan berangkat dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa puasa dimulai dan diakhiri dengan melihat hilal.
Jika hilal tidak terlihat karena tertutup awan, maka bulan berjalan disempurnakan menjadi 30 hari.
Baca juga: Tragis, Bocah SD di Demak Tewas Gantung Diri Setelah Dimarahi Ibunya
Baca juga: 2 Tersangka Predator Seksual Anak di Banyumas Belum Ditahan Polisi
“Puasa Ramadan itu bergantung pada terlihat atau tidaknya hilal. Inilah yang kemudian melahirkan dua pendekatan, yaitu hisab dan rukyat,” jelasnya, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, ilmu falak berperan sebagai sarana untuk memastikan ketepatan waktu ibadah.
Hisab digunakan untuk menghitung posisi bulan secara astronomis, sementara rukyat dilakukan untuk memastikan apakah hilal benar-benar dapat dilihat di lapangan.
Prof Ahmad Izzuddin menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak semata-mata menggunakan rukyat atau hisab saja, melainkan mengakomodasi keduanya.
Hal itu melahirkan konsep hisab imkanur rukyat yang dijadikan dasar dalam sidang isbat.
“Sidang isbat itu adalah bentuk fasilitasi pemerintah agar masyarakat tidak bingung menghadapi perbedaan. Di sana dikaji data hisab dan diverifikasi dengan hasil rukyat dari seluruh Indonesia,” katanya.
Ia menuturkan, tradisi penentuan awal Ramadan sebenarnya sudah berlangsung sejak masa lalu.
Di Semarang, misalnya, terdapat tradisi Dukderan yang menjadi simbol pengumuman awal puasa oleh penguasa setempat pada zamannya.
| Pemprov Jateng Kebut Pembentukan 1.000 Desa Wisata Baru, Beban Terberat Dirasakan 3 Kabupaten Ini |
|
|---|
| Tampil Dominan, Roller Jateng Athaya Rizki Persembahkan Emas Kejuaraan Champ of The Champ 2026 |
|
|---|
| Punya Histori Temuan Hantavirus di 2 Daerah Ini, Dinkes Jateng Tingkatkan Kewaspadaan |
|
|---|
| Upaya Taj Yasin Pulihkan Senyum Siswa Korban Sekolah Roboh di Sragen |
|
|---|
| Cara Menghemat Keuangan di Tengah Krisis Energi dan Kenaikan Kebutuhan Pangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260214_Ahmad-Izzuddin.jpg)