Kesehatan
Kasus Penyakit Darah dan Kanker Masih Jadi Tantangan, Deteksi Dini dan Akses Obat Jadi Kunci
Penyakit darah dan kanker masih menjadi tantangan serius di sektor kesehatan.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Penyakit darah dan kanker masih menjadi tantangan serius di sektor kesehatan, terutama karena banyak pasien baru terdeteksi saat sudah berada pada stadium lanjut.
Kondisi ini sangat memengaruhi harapan hidup pasien, meski perkembangan pengobatan saat ini dinilai semakin maju.
Ketua Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) Cabang Semarang, dr Mika L Tobing, mengatakan bahwa peluang hidup pasien kanker dan penyakit darah sangat ditentukan oleh stadium saat diagnosis serta ketersediaan terapi yang sesuai standar medis.
Baca juga: Kuliah Pakar Psikologi Angkat Isu Kesehatan Mental Gen Z di Era Digital
“Pasien yang ditemukan pada stadium awal tentu berbeda harapan hidupnya dibanding stadium tiga atau empat. Selain itu, ketersediaan obat juga sangat menentukan,” kata dr Mika, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, pengobatan penyakit darah dan kanker kini sudah mengacu pada pedoman internasional berbasis bukti ilmiah (evidence-based), seperti dari American Society of Hematology, Eropa, dan Jepang, yang kemudian disesuaikan dengan kondisi layanan kesehatan di Indonesia.
Di era Jaminan Kesehatan Nasional, sebagian besar terapi dasar sudah dapat diakses pasien.
Namun, dr Mika mengakui masih ada keterbatasan, terutama pada obat-obatan terbaru seperti terapi target dan imunoterapi yang belum seluruhnya ditanggung BPJS Kesehatan.
Meski demikian, kemajuan pengobatan telah meningkatkan kualitas dan harapan hidup pasien.
Ia mencontohkan penanganan Acute Myeloid Leukemia (AML) yang kini jauh lebih baik dibanding dua dekade lalu.
“Dulu banyak pasien leukemia tidak bisa melanjutkan pengobatan karena biaya. Sekarang, dengan regimen dosis rendah hingga opsi cangkok sumsum tulang, peluang hidup pasien jauh meningkat,” jelasnya.
Selain kanker, masalah kesehatan darah lain yang masih sering dijumpai adalah anemia, termasuk pada anak-anak usia sekolah.
Kondisi ini kerap luput dari perhatian meski berdampak pada tumbuh kembang dan kualitas hidup anak.
“Anemia bukan hanya soal lemas, tapi juga indikator status kesehatan anak. Ini perlu perhatian bersama,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pasien kanker memiliki risiko tinggi mengalami trombosis atau pembekuan darah, yang dapat memicu stroke maupun serangan jantung.
Karena itu, pencegahan trombosis (kondisi medis di mana terjadi pembentukan gumpalan darah (trombus) di dalam pembuluh darah) menjadi bagian penting dalam penanganan pasien kanker.
| Akses Layanan Kesehatan Internasional Kini Lebih Mudah, Tak Perlu Bingung Berobat ke Luar Negeri |
|
|---|
| Kisah Pelari Jalani Gaya Hidup Baru Hingga Mendapat Pertemanan Baru |
|
|---|
| SMC RS Telogorejo Kenalkan RONEE, Robot Operasi Lutut yang Lebih Presisi dan Terukur |
|
|---|
| Tips Jaga Kesehatan saat Lebaran: Batasi Makanan Bersantan dan Manis |
|
|---|
| Apa Saja Gejala Kanker Ginjal? Penyakit yang Sebabkan Vidi Aldiano Meninggal di Usia 35 Tahun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260120_menyapa-pasien-kanker.jpg)