Horizzon
Elina dan Borgol Samuel
Negara dipermalukan lantaran membiarkan Elina yang tua renta berjuang sendiri, memperjuangkan hak yang ia yakini
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Negara yang alpa dan lunturnya pengakuan publik terhadap negara tidak muncul dengan sendirinya. Kebetulan, masih dari kisah Elina ini saya bisa melihat bagaimana alat negara, atau sebut saja oknum alat negara, tampak bermain-main.
Ada sikap konyol yang dipertontonkan negara, dalam hal ini polisi dalam menangani kasus Elina. Ini justru kentara ketika sikap hiperbolis dipertontonkan oleh aparat kepolisian dalam menyikapi kasus Elina.
Saya mencatat sejumlah puzzle konyol di penanganan kasus Elina. Elina digusur, sejak bulan Agustus. Rumah di Dukuh Kuwuhan 27, Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya, itu juga sudah rata dengan tanah pada bulan yang sama.
Elina melaporkan kasus ini, pada Oktober 2025. Polisi juga sudah berulangkali memeriksa Samuel yang kooperatif memberikan keterangan. Namun saat itu polisi seolah lambat dalam menangani kasus ini dan entah berskenario mau berujung ke mana kasus ini.
Seusai kasus ini viral dan menjadi atensi publik, pada 29 Desember 2025, polisi tiba-tiba menampilkan epilog lucu yang menampilkan narasi penangkapan Samuel yang diborgol. Itu jelas lucu dan berlebihan.
Peristiwa itu masih menyisakan tanda tanya besar, bagaimana hubungan penyidik dan Samuel saat kasus ini belum viral. Meski demikian, sebaiknya negara—dalam hal ini polisi—belajar tentang kesungguhan penegakan hukum yang menjadi tanggung jawab mereka.
Pilihan langkah yang tepat dalam soal itu bisa menguatkan eksistensi negara. Sebaliknya, saat langkah yang diambil keliru, justru melemahkan eksistensi negara di hadapan publiknya sendiri. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)