UIN SAIZU Purwokerto
Hadirkan Profesor dari Iran, UIN Saizu Gelar Seminar Internasional Bahas Islam, Tradisi & Modernitas
Hadirkan Profesor dari Iran, Pascasarjana UIN Saizu Perkuat Tradisi Akademik dan Buka Ruang Dialog Lintas Negara
TRIBUNJATENG.COM - Pascasarjana Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto sukses menggelar Seminar Internasional bertajuk “Islam, Tradition, and Modernity: Iranian Perspective” pada Senin, 1 September 2025.
Acara yang berlangsung di Ruang Ujian Doktor Pascasarjana ini menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. Mohammad Syarifani, Guru Besar Pemikiran Islam dari Universitas Allameh Tabataba’i, Republik Islam Iran.
Seminar dipandu oleh Dr. Ade Ruswatie sebagai moderator, dengan dukungan Dr. Akmal Kamil yang berperan ganda sebagai penerjemah bahasa Persia sekaligus narasumber.
Direktur Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto, Prof. Moh. Roqib membuka seminar dengan sambutan dan keynote speech. Dalam pidatonya, ia menekankan adanya kesamaan kultural antara Indonesia, khususnya Jawa, dan Iran.
Beberapa tradisi seperti peringatan Maulid Nabi, pembacaan salawat, hingga nasyid menjadi titik temu budaya keislaman kedua negara. Prof. Roqib juga menyampaikan apresiasi atas kemajuan Iran di bidang ilmu pengetahuan, filsafat, dan teknologi.
Dalam pemaparannya, Prof. Syarifani menegaskan bahwa Iran berhasil mendamaikan tradisi dengan modernitas. Ia menolak dikotomi ekstrem antara kelompok tradisionalis fanatik dan modernis-liberal.
Menurutnya, posisi Iran berada pada jalur moderat dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam, namun tidak menutup diri terhadap modernitas.
Ia mengutip gagasan para pemikir Iran, seperti Murtadho Muthahhari, yang menegaskan pentingnya harmoni antara tradisi Islam dan perkembangan zaman.
Sebagai contoh, perempuan di Iran memperoleh kesempatan luas dalam pendidikan, peran publik, dan berbagai sektor strategis. Namun, kebebasan tersebut tetap berlandaskan batas-batas yang digariskan agama.
“Pendidikan di Iran pascarevolusi meningkat sepuluh kali lipat dibanding sebelum revolusi,” tegasnya.
Prof. Syarifani juga memaparkan empat formula hidup modern tanpa meninggalkan nilai Islam, yaitu:
1. Meyakini Islam sebagai agama komprehensif yang mengatur seluruh aspek kehidupan.
2. Melakukan ijtihad dengan mempertimbangkan nilai prinsipil yang tetap dan hal-hal yang dapat berubah.
3. Menetapkan hukum melalui kepemimpinan seorang amir berdasarkan hasil ijtihad.
4. Menguatkan institusi amar makruf nahi munkar sebagai kontrol sosial.
Seminar internasional ini menjadi wujud komitmen Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto dalam memperkuat tradisi akademik sekaligus membuka ruang dialog lintas negara.
Kehadiran narasumber dari Iran memperluas wawasan peserta tentang dinamika pemikiran Islam, khususnya dalam menghadapi tantangan modernitas dengan tetap berpijak pada nilai tradisi.
| SABUDAYA Resmi Dibentuk, Kebangkitan Sastra dan Budaya Mahasiswa UIN Saizu Dimulai |
|
|---|
| Kembangkan Aplikasi Spiritual Care, Aris Fitriyani Menjadi Doktor Ke-87 Pascasarjana UIN Saizu |
|
|---|
| Menteri Agama Tegaskan Pesantren Harus Jadi Ruang Aman bagi Anak, Kekerasan Tak Boleh Ditoleransi |
|
|---|
| Hadirkan Dewan Pengawas BLU, UIN Saizu Perkuat Tata Kelola Keuangan dan Optimalisasi Layanan Kampus |
|
|---|
| Prof Ridwan: UIN Saizu Tidak Bisa Lepas dari Peran Media |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250902_uisnaizu_iran.jpg)