UIN SAIZU Purwokerto
Dari Baghdad ke Pesantren: Menghidupkan Kembali Semangat Baitul Hikmah
Prof. Kholid Mawardi mengajak kita menyalakan kembali semangat Baitul Hikmah melalui pesantren modern dan Ma’had Aly sebagai pusat ilmu dan hikmah
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Jika di Baghdad para ilmuwan menerjemahkan ilmu dari Yunani dan Persia, maka di Ma’had Aly para santri bisa “menerjemahkan” ilmu-ilmu modern ke dalam bahasa nilai Islam Nusantara.
Mereka bisa meneliti etika lingkungan, keadilan sosial, atau pendidikan digital dari perspektif Islam. Dengan cara ini, pesantren tidak kehilangan ruhnya, tapi justru memperluas jangkauan hikmahnya.
Dari Kitab Kuning ke Cloud Library
Pesantren kini berada di era baru: era digital. Dulu santri membawa kitab kuning ke masjid, sekarang mereka bisa membuka kitab yang sama lewat ponsel. Dulu ilmu disampaikan lewat pengajian malam, kini bisa diakses lewat platform daring.
Perubahan ini bukan ancaman, tapi peluang. Dengan teknologi, pesantren bisa membangun Baitul Hikmah digital perpustakaan terbuka, pusat riset daring, dan forum lintas pesantren untuk berbagi gagasan. Yang penting, semangatnya tetap sama: mencari hikmah, bukan sekadar informasi.
Spirit Budaya Santri: Akhlak di Atas Ilmu
Namun, ada satu hal yang tidak boleh berubah: nilai budaya santri. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, pesantren harus tetap menjaga ruh tawadhu’, ikhlas, dan adab. Nilai-nilai inilah yang menjadi benteng moral sekaligus pembeda.
Kalau di universitas orang mengejar gelar, di pesantren ilmu dikejar demi keberkahan. Kalau dunia modern sibuk berdebat siapa paling pintar, santri sibuk berdoa agar ilmunya bermanfaat. Spirit inilah yang membuat pesantren pantas menjadi Baitul Hikmah baru pusat ilmu yang tetap berjiwa manusiawi.
Cahaya dari Timur yang Tak Pernah Padam
Dari Baghdad hingga Banyumas, dari Baitul Hikmah ke Ma’had Aly, dari kertas papirus ke layar digital api peradaban Islam terus menyala. Ia berpindah bentuk, berpindah ruang, tapi tidak kehilangan makna.
Ketika pesantren mampu memadukan kitab kuning dan sains modern, doa dan data, akal dan wahyu, maka di situlah kebangkitan Islam bukan lagi impian, melainkan kenyataan yang lahir dari bumi sendiri. The New Baitul Hikmah bukan sekadar visi, tapi gerakan budaya: membangun kembali peradaban ilmu yang beradab, dari pesantren untuk dunia. (***)
| HMPS KPI UIN SAIZU Bangun Budaya Komunikasi Inklusif di MAN dan SLB Purbalingga |
|
|---|
| Talkshow Ahmad Tohari di UIN Saizu Soroti Matinya Kepakaran dalam Cerminan Sastra dan Budaya |
|
|---|
| HMPS KPI UIN SAIZU Perkuat Komunikasi Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas Lewat Gerakan AKSARA 2026 |
|
|---|
| LPPM UIN Saizu Buka Lomba Desain Logo KKN ke-58, Angkat Tema “Bareng Warga Mbangun Karya” |
|
|---|
| Empat Aspek Fundamental Substantif dari Ibadah Kurban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251111-opini-uinsaizu.jpg)