Readers Note
Hilirisasi Riset Pendidikan: Turun dari Menara Gading
Sebagai seorang periset, lega rasanya mendengar hal tersebut ditegaskan dalam orasi pembuka di depan media. Mengapa saya begitu lega?
Bagaimana mungkin seorang periset dapat menyimpulkan fenomena di kelas tanpa pernah punya pengalaman mengelola kelas? Situasi demikian membuat temuan riset seringkali prematur dan tidak mendalam.
Kondisi demikian juga membuat gap antara periset dan subjek riset. Periset sering dianggap sebagai orang hanya mengerti teori saja tanpa memahami situasi di lapangan. Imbasnya, praktisi pendidikan sering tidak antusias membaca hasil riset yang dilakukan periset. Bahkan saya sendiri terkadang merasa sangat arogan karena hanya 5 hari observasi lalu merasa dapat menyimpulkan berbagai hal yang ada di lokasi riset.
Selanjutnya, menara gading yang ditimbulkan oleh program riset. Saya menemukan dikotomi antara program riset dan program implementasi hasil riset dengan berbagai istilah. Kita sering mendengar dikotomi antara riset dengan pengabdian masyarakat. Tidak jarang pula mendengar bahwa riset itu adalah produksi ilmu pengetahuan.
Sistem pengelolaan demikian membuat batas-batas yang mengganjal distribusi hasil riset sampai pada sasaran. Sempit sekali jika riset berdiri sendiri tanpa terintegrasi dengan pengabdian, kaku sekali jika riset hanya memproduksi ilmu pengetahuan.
Pemilah-milahan tersebut membuat proses riset kadang terputus atau jika terselesaikan maka distribusinya mandeg. Hingga saat ini, luaran program riset utamanya adalah artikel yang terbit di jurnal atau hak karya intelektual. Saya jarang (atau mungkin belum pernah) ditanya berapa guru dan murid yang telah dimudahkan oleh temuan risetmu.
Luwes untuk Hilirisasi
Program riset di Indonesia perlu dikembalikan pada urgensi utama yaitu riset sebagai proses menyelesaikan masalah bangsa. Membuat sistem kerja semakin luwes dan saling terintegrasi antara riset dan distribusi hasil riset menjadi satu peluang untuk membuat hilirisasi hasil riset (berdampak). Jangan sampai periset, program riset, dan hasil riset terisolir sehingga hanya membuahkan seonggok manuscrip yang tidak memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Momentum saat ini rasanya sangat tepat untuk membuat riset bidang pendidikan menjadi lebih berdampak. BRIN sebagai lembaga riset harus membangun kerjasama serius dengan lembaga lain mulai dari kementarian hingga level sekolah. Antar lembaga tersebut perlu merumuskan program memasyarakatkan periset dan hasil riset.
Memasyarakatkan periset dengan mendekatkan mereka ke sekolah untuk ikut serta masuk dalam ekosistemnya. Periset pendidikan tidak bisa di kantor terus, mayoritas waktu harus ada di sekolah, perguruan tinggi, maupun berbagai instansi pendidikan sebagai laboratorium. Dengan demikian maka perisetnya akan semakin kompeten dan hasil risetnya akan semakin tersebar luas.
Menolong satu murid untuk lebih mudah belajar jauh lebih bermanfaat dibanding mempublikasikan hasil riset di Jurnal Internasional terindeks Scopus Q1. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/DR-Janu-Arlinwibowo.jpg)