Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

READERS NOTE

Ramadan Laboratorium Pembentukan Karakter di Tengah Deru Digital

Ramadlan Karim (Ramadlan yang Mulia) sesungguhnya bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Dia adalah sebuah Laboratorium Pembentukan Karakter

Tayang: | Diperbarui:
Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
KH Mahlail Syakur Sf, Dosen Unwahas Semarang 

Tazkiyah dan Komitmen Anti-Bullying

Tujuan antara dari laboratorium ini adalah penyucian jiwa (Tazkiyah an-Nafs). Di dunia maya, jiwa manusia modern sering kali terpolusi oleh penyakit narsisme, rasa iri akibat melihat kehidupan orang lain (FOMO), dan kebencian tanpa dasar. Ramadlan hadir sebagai masa "detoksifikasi" untuk membersihkan residu negatif tersebut.

Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, sering mengingatkan pentingnya aspek esoteris (batin) dalam beragama. Beliau menjelaskan:
"Puasa bukan hanya memindahkan waktu makan, tapi proses pembersihan cermin hati (tazkiyah). Hati yang bersih tidak akan melahirkan kata-kata yang kotor, apalagi caci maki di ruang publik."

Salah satu output nyata dari jiwa yang suci adalah karakter anti-bullying. Seseorang yang benar-benar menempuh proses Tazkiyah tidak akan menggunakan lidahnya—maupun jempolnya—untuk merundung atau merendahkan martabat sesama manusia. Ia sadar sepenuhnya bahwa menyakiti perasaan orang lain melalui kolom komentar adalah "pembatal" pahala puasa yang paling nyata secara maknawi. Ia sadar sepenuhnya bahwa menyakiti perasaan orang lain secara digital adalah residu benci yang menodai kesucian puasa.

Islam mengajarkan bahwa Muslim sejati adalah dia yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya (termasuk jari-jarinya di layar smartphone).

Output Akhir yang "User-Friendly"

Muara dari seluruh rangkaian proses di laboratorium ini adalah Taqwa. Secara substansial, taqwa bukan sekadar ketakutan akan siksa, melainkan kesadaran eksistensial bahwa setiap gerak-gerik kita, termasuk jejak digital yang permanen, diawasi oleh Sang Maha Melihat.

Orang yang bertaqwa hasil "lulusan" laboratorium Ramadlan adalah pribadi yang user-friendly bagi lingkungannya. Ia menjadi filter di tengah badai informasi, menjadi pendamai di tengah polarisasi, dan menjadi penyebar rahmah di dunia nyata maupun maya. Ia tidak mudah terprovokasi oleh konten clickbait yang memancing amarah, karena ia memiliki kontrol internal yang kuat.

Meraih Fitrah

Ramadlan adalah kesempatan emas untuk melakukan "instal ulang" (reinstall) terhadap sistem operasi karakter kita. Jika setelah sebulan penuh berproses di laboratorium ini kita masih gemar menebar benci, melakukan perundungan digital, dan memicu perpecahan, maka kita patut curiga: jangan-jangan kita hanya sekadar "mampir" tanpa pernah benar-benar mengikuti eksperimen perubahan jiwa tersebut.

Keberhasilan puasa seseorang di akhir Ramadlan tidak diukur dari seberapa lemas fisiknya di siang hari, melainkan dari seberapa teduh tutur katanya dan seberapa damai kehadirannya bagi orang lain setelah bulan suci berlalu. Mari jadikan Ramadlan tahun ini sebagai momentum transformasi karakter yang nyata, demi mewujudkan masyarakat digital yang lebih beradab, inklusif, dan penuh kasih sayang. Selamat berproses di Laboratorium Ramadlan.
Mari jadikan Ramadlan tahun ini sebagai momentum transformasi nyata. Biarlah Idul Fitri nanti kita rayakan dengan jiwa yang benar-benar bersih—bebas dari residu benci, penuh dengan bunga-bunga rahmah, sesuai teladan para guru bangsa kita. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved