Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

READERS NOTE

Ramadan Laboratorium Pembentukan Karakter di Tengah Deru Digital

Ramadlan Karim (Ramadlan yang Mulia) sesungguhnya bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Dia adalah sebuah Laboratorium Pembentukan Karakter

Tayang: | Diperbarui:
Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
KH Mahlail Syakur Sf, Dosen Unwahas Semarang 

Ramadan Laboratorium Pembentukan Karakter di Tengah Deru Digital
Oleh: KH Mahlail Syakur Sf, Dosen Unwahas Semarang 

SETIAP tahun umat Muslim di seluruh dunia memasuki sebuah fase "karantina" spiritual yang disebut Ramadlan. Di balik keriuhan tradisi berburu takjil, silaturahmi, hingga fenomena mudik, terdapat sebuah proses esensial yang berlangsung di kedalaman jiwa. 

Ramadlan Karim (Ramadlan yang Mulia) sesungguhnya bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Dia adalah sebuah Laboratorium Pembentukan Karakter yang didesain secara sistematis untuk membedah, memperbaiki, dan menyempurnakan "perangkat lunak" (software) kemanusiaan kita.

Sebagai Ramadlan Bulan Rahmah, kasih sayang Tuhan menjadi atmosfer utama dalam laboratorium ini. Namun, tantangannya kini jauh lebih kompleks. Di era disrupsi digital, di mana jempol sering kali lebih cepat daripada akal, sejauh mana puasa kita mampu menjadi rem bagi toksisitas di ruang siber?

Puasa dan Hidden Curriculum Spiritual

Dalam dunia pendidikan, kita mengenal istilah hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Ini adalah pelajaran yang tidak tertulis secara eksplisit dalam silabus, namun dampaknya jauh lebih membekas daripada materi di papan tulis. Puasa adalah praktik kurikulum tersembunyi yang luar biasa efektif.

Secara formal, aturan puasa sangat sederhana: menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga magrib. Namun, kurikulum tersembunyi di baliknya mengajarkan regulasi diri (self-regulation) dan integritas. Mengenai hakikat puasa ini, Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, M.A. dalam berbagai karyanya sering menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan diri dari yang membatalkan secara lahiriah. 

"Puasa adalah 'imsak', yakni menahan diri. Orang yang berpuasa seharusnya mampu menahan egonya, termasuk menahan lisan dan tangannya dari menyakiti sesama. Jika puasa hanya menahan lapar, itu baru kulitnya, belum isinya".

Di era digital yang serba instan, hal mana makanan, hiburan, hingga informasi pelajaran agama bisa diakses dengan satu klik, puasa memaksa manusia untuk melatih bersikap menunda kepuasan (delayed gratification). Jika kita mampu menahan diri dari air yang halal di siang hari demi prinsip ketuhanan, maka seharusnya kita juga bisa memiliki "otot mental" untuk menahan diri dari menyebarkan berita bohong (hoax) atau melakukan ujaran kebencian (hate speech) di media sosial. 

Aktivitas Berjama’ah: Filter Anti-Perpecahan

Laboratorium Ramadlan menyediakan berbagai instrumen praktis seperti Shalat Tarawih berjama’ah dan Tadarus Al-Qur`an. Aktivitas ini memiliki dimensi sosiologis yang sangat kuat. Di dalam baris shalat tarawih (shaf), tidak ada sekat kelas sosial, jabatan, maupun pilihan politik. Semua berdiri sejajar menghadap Sang Pencipta. Ini adalah obat penawar anti-perpecahan yang paling mujarab bagi bangsa yang sering kali terkotak-kotak oleh residu politik identitas.

Hal ini sejalan dengan spirit kemanusiaan yang sering didengungkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur selalu menekankan bahwa substansi agama adalah memanusiakan manusia. Dalam konteks kerukunan, salah satu kutipan legendaris beliau yang sangat relevan dengan semangat Ramadlan adalah: 

"Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu". 

Ramadan melatih kita untuk kembali pada esensi tersebut. Melalui Tadarus Al-Qur`an, seorang hamba tidak hanya membaca deretan huruf, tetapi melakukan dialog batin dengan firman Tuhan. 

Di era di mana narasi kebencian mudah viral, Tadarus melatih kita untuk kembali kepada bahasa yang santun, reflektif, dan mencerahkan. Sementara itu, Qiyamul Lail (bangun di penghujung malam) menjadi momentum privat yang sangat mahal di tengah hiruk-pikuk notifikasi gawai yang tak pernah berhenti. Di kesunyian malam, manusia dipaksa jujur pada dirinya sendiri, melakukan evaluasi tanpa intervensi komentar netizen.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved