Opini
Lewat Membaca dan Diskusi, Book Club Semarang Perkuat Nilai Sosial Remaja
Arus informasi digital, mengubah cara remaja memperoleh, memaknai, dan membagikan informasi. Informasi tersedia melimpah
Oleh: Daniar Solekha, Mahasiswa S2 PIPS UNNES dan Guru SMAN 5 Semarang
ARUS informasi digital, mengubah cara remaja memperoleh, memaknai, dan membagikan informasi. Informasi tersedia melimpah, tetapi tidak selalu diiringi dengan kemampuan untuk memahami, menilai, dan merefleksikannya secara mendalam. Akibatnya, tidak sedikit remaja yang terjebak pada cara berpikir instan, sekaligus mengalami penurunan kepekaan sosial.
Penyelesaian persoalan ini tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah atau keluarga. Pendidikan formal cenderung masih menitikberatkan pada capaian akademik, sementara keluarga seringkali memiliki keterbatasan waktu dalam mendampingi perkembangan sosial anak. Di titik inilah, remaja memerlukan komunitas non-formal yang relevan untuk mengembangkan jati diri, identitas sosial, dan makna kebersamaan. Guna menjawab tantangan tersebut, di Kota Semarang terdapat salah satu komunitas yang berfokus di bidang literasi yaitu Book Club Semarang.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh penulis, pengalaman di Komunitas Book Club Semarang menunjukkan proses pembentukan nilai solidaritas dan berpikir kritis pada remaja anggota komunitas tidak terjadi secara tiba-tiba. Nilai tersebut terbentuk melalui interaksi sosial yang berlangsung secara berulang, terutama dalam aktivitas membaca bersama (silent reading), review buku, dan diskusi kolektif.
Membaca dalam konteks komunitas ini tidak lagi menjadi aktivitas yang bersifat individual. Remaja membaca dengan kesadaran bahwa apa yang mereka pahami akan dibagikan kepada orang lain.
Proses ini secara tidak langsung mendorong mereka untuk membaca lebih serius, lebih reflektif, dan tidak sekadar memahami permukaan teks. Namun, proses yang lebih penting justru terjadi saat diskusi.
Dalam aktivitas diskusi, setiap anggota membawa pemahamannya masing-masing, lalu dipertemukan dalam ruang dialog. Menurut riset, dalam aktivitas diskusi terjadi pertukaran perspektif yang seringkali berbeda, bahkan bertentangan.
Anggota komunitas menyikapi perbedaan ini dengan bijak. Bagi mereka perbedaan pendapat bukan menjadi sumber konflik, melainkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya pemahaman baru.
Dari proses tersebut, nilai solidaritas mulai terbentuk. Remaja belajar untuk mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, dan menerima bahwa setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda. Solidaritas yang tumbuh dalam komunitas bukan sekadar kebersamaan secara fisik, tetapi kesediaan untuk saling memahami.
Di sisi lain, kemampuan berpikir kritis juga berkembang secara alami. Remaja tidak hanya menerima isi buku sebagai kebenaran mutlak, tetapi mulai mempertanyakan, membandingkan, dan mengaitkannya dengan pengalaman nyata. Diskusi menjadi ruang latihan berpikir, di mana anggota komunitas belajar menyampaikan argumen sekaligus terbuka terhadap kritik.
Menariknya berdasarkan penelitian, proses ini terjadi dalam suasana yang relatif santai dan egaliter. Tidak ada tekanan seperti di ruang kelas formal. Justru karena suasana yang lebih cair, remaja merasa lebih bebas untuk berekspresi dan berpendapat. Hal ini menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan diri sekaligus keberanian berpikir.
Pengalaman dari riset ini memberi pelajaran bahwa pembentukan nilai sosial tidak selalu harus dilakukan melalui pendekatan yang formal dan kaku. Komunitas literasi seperti Book Club Semarang menawarkan model yang lebih fleksibel, tetapi tetap memiliki dampak yang nyata.
Oleh karena itu, keberadaan komunitas seperti ini perlu mendapat perhatian lebih, baik dari pemerintah daerah, institusi pendidikan, maupun masyarakat. Komunitas literasi bukan sekadar tempat membaca, tetapi ruang sosial yang mampu menumbuhkan solidaritas dan nalar kritis remaja.
Maka di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kemampuan berpikir kritis dan kepekaan sosial bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Komunitas Book Club Semarang telah menunjukkan bahwa keduanya dapat tumbuh dari hal yang sederhana: membaca dan berdiskusi bersama. (*)
| Anomali Geopolitik Global dan Tantangan PKB Menghadapi Pemilu 2029 |
|
|---|
| Velocity of Money Lebaran: Euforia Perputaran Uang |
|
|---|
| Dampak Strategis Pembangunan Desa terhadap Kemajuan Bangsa: Transformasi Struktural dari Akar Rumput |
|
|---|
| Belajar dari yang Viral, Cara Baru Sekolah Menggerakkan Masyarakat |
|
|---|
| MBG Vs Everybody |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260502_opini5878.jpg)