Selasa, 26 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Arisy Abror Dzukroni, Wisudawan Terbaik UIN Walisongo 2026, Bawa Riset Halal RI Mendunia

Sosok tenang dan sederhana itu tak pernah benar-benar membayangkan dirinya berdiri sebagai wisudawan terbaik

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Arisy Abror Dzukroni, atau akrab disapa Abror, menjadi Wisudawan Terbaik Program Doktor pada prosesi Wisuda Periode Mei 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Sabtu (23/5/2026), di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. 

“Tentu temuan ini memunculkan pro dan kontra dari para akademisi dan penguji,” katanya.

Untuk membangun argumentasinya, Abror menggunakan pendekatan Constructivist Grounded Theory (CGT)—metode yang masih jarang dipakai dalam kajian hukum Islam.

Ia melakukan wawancara dengan berbagai aktor halal, observasi lapangan, survei konsumen muslim, hingga menelusuri arsip pemberitaan Kompas dan Tempo sejak 1988.

Dari penelitian panjang tersebut, Abror melahirkan teori “Transformasi Epistemologis” sebagai tawaran baru dalam kajian sosiologi hukum Islam kontemporer.

Sebagai mahasiswa doktoral, Abror tidak hanya aktif di ruang kelas dan perpustakaan.

Ia juga membawa gagasan akademiknya menembus forum internasional.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat mengikuti summer school di UCSIA Antwerpen, Belgia, dan menghadiri konferensi internasional di Cambridge University.

“Dukungan dari dosen dan rekan mahasiswa saat itu benar-benar menjadi pemacu untuk menghasilkan karya ilmiah yang layak diperbincangkan di panggung global,” tuturnya.

Aktivitas akademiknya juga diperkuat lewat organisasi Cakrawala Indonesia Bangkit cabang UIN Walisongo, komunitas para awardee beasiswa yang aktif mengembangkan kemampuan akademik dan sosial mahasiswa.

Bagi Abror, organisasi justru penting bagi mahasiswa pascasarjana selama mampu menunjang kapasitas intelektual.

“Bertemu dan bertukar pikiran dengan lingkup yang lebih luas dapat memperkaya sudut pandang dan kemampuan analitis,” jelasnya.

Abror menyebut perjalanan doktoral bukan sekadar soal kecerdasan, melainkan ketahanan mental dan konsistensi.

Ia menggambarkan bagaimana seorang mahasiswa doktor harus bergulat dengan ratusan buku dan jurnal, revisi tanpa akhir, jadwal wawancara, observasi lapangan, hingga mempertahankan argumentasi di hadapan penguji.

“Studi doktor bukan tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling konsisten dan tahan diuji,” tegasnya.

Di balik keteguhan itu, terdapat sosok ibu yang selalu menjadi sumber kekuatan hidupnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved