Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Universitas Harkat Negeri

Menakar Masa Depan Indonesia: Universitas Harkat Negeri dan Universitas Paramadina Gelar Diskusi

Universitas Harkat Negeri dan Universitas Paramadina mengadakan diskusi yang menjadi arena pertemuan dua arus pemikiran

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Seminar bertajuk “Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?” 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Universitas Harkat Negeri dan Universitas Paramadina mengadakan diskusi yang menjadi arena pertemuan dua arus pemikiran yaitu kekhawatiran yang selama ini hanya berbisik di ruang-ruang akademik, dan data-data keras yang akhirnya disuarakan secara terbuka.

Seminar bertajuk “Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?” bertempat di Universitas Paramadina, Trinity Tower Lt. 45 pada Jumat (22/5/2026).

Titik berangkat diskusi adalah dua artikel The Economist yang terbit pertengahan Mei 2026: “Indonesia on a Risky Path” dan “Indonesia’s President is Jeopardizing the Economy and Democracy.”

Kedua artikel tersebut mengkritik keras arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo, menyoroti risiko fiskal, pelemahan institusi, dan erosi demokrasi.

Respons pemerintah yang datang secara terbuka di panggung internasional justru memperkeruh situasi.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., menempatkan laporan tersebut dalam bingkai yang lebih luas.

Ia mengingatkan bahwa gesekan antara The Economist dan kebijakan pemerintah Prabowo bukanlah sekadar perselisihan opini melainkan benturan struktural antara dua haluan yang berbeda secara mendasar.

“Arah kebijakan yang bergerak ke ranah state-led capitalism berbenturan langsung dengan haluan ideologis The Economist yang secara konsisten menganut paham pasar bebas. Ini bukan sekadar polemik sesaat,” tutur Prof. Didik.

20260526_Seminar UHN1
Sudirman Said, Rektor Universitas Harkat Negeri sekaligus pemantik diskusi, menyampaikan pemamarannya

Namun Prof. Didik juga memberikan perspektif pembanding: Korea Selatan berhasil mencapai pendapatan per kapita hampir 40.000 dolar AS dengan rasio Gini sekitar 0,3 lebih baik dari Indonesia yang berada di angka 0,4 justru dengan model konglomerasi besar.

Artinya, state-led capitalism tidak selalu identik dengan ketimpangan, asalkan dikelola dengan tata kelola yang serius dan akuntabel.

Ia berharap seminar ini menghasilkan pandangan yang jernih, kritis, dan konstruktif bukan sekadar membela atau menyerang.

Sudirman Said, Rektor Universitas Harkat Negeri sekaligus pemantik diskusi, menyampaikan kekhawatiran The Economist ke dalam tiga lapis persoalan yang saling berkelindan: tekanan fiskal, sentimen pasar, dan dominasi negara atas ekonomi.

Sudirman Said mencatat bahwa program-program unggulan pemerintah berpotensi menyerap hingga 10 persen dari pendapatan negara.

Tanpa kinerja penerimaan yang kuat, beban itu bisa mendorong defisit anggaran melampaui ambang 3 persen yang diatur undang-undang.

Sebuah konsekuensi yang menyentuh tidak hanya angka, tetapi manajemen arus kas negara secara keseluruhan.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved