Universitas Harkat Negeri
Menakar Masa Depan Indonesia: Universitas Harkat Negeri dan Universitas Paramadina Gelar Diskusi
Universitas Harkat Negeri dan Universitas Paramadina mengadakan diskusi yang menjadi arena pertemuan dua arus pemikiran
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Pada lapisan kedua, tanda-tanda keluarnya investor asing sudah tampak sejak awal pemerintahan, tercermin dari pelemahan indeks saham dan nilai tukar rupiah.
Pada lapisan ketiga, makin dominannya peran negara dalam ekonomi menggerus peran korporasi swasta, masyarakat sipil, dan lembaga pengawas ibarat kursi empat kaki yang kehilangan satu kakinya.
Namun Sudirman Said menegaskan bahwa di balik semua itu, ada persoalan yang lebih fundamental: krisis kepercayaan.
“Kesenjangan antara otoritas dan legitimasi terus melebar karena tata kelola tidak mencerminkan integritas, meritokrasi, dan kapasitas yang memadai. Keputusan-keputusan besar dibuat tanpa proses deliberasi yang cukup, tanpa contestability of ideas, dan tanpa check and balance yang sehat,” tegas Sudirman Said.
Ia juga mengangkat dimensi yang bahkan lebih dalam yaitu fungsi negara sebagai instrumen membangun dan mendistribusikan kemakmuran tampak mengalami reduksi, bergeser menjadi instrumen elektoral untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan.
Sudirman Said mengakhiri paparannya dengan seruan agar para sarjana Indonesia ratusan ribu orang yang dididik dengan investasi bangsa, di dalam maupun luar negeri tidak terus diabaikan di saat negara justru sangat membutuhkan suara-suara kritis mereka.
Selanjutnya, Prof. Moh. Ikhsan, Ph.D., ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, membuka paparannya.
“Indonesia belum berada di tepi jurang, namun pintu keluarnya sedang menutup. Sejarah tidak sedang diam ia sedang berbisik, dan bisikannya makin keras ” tuturnya.
Prof. Ikhsan membangunnya di atas rekaman historis yang rinci.
Menurutnya, sejumlah pola yang terlihat hari ini memiliki kemiripan mengkhawatirkan dengan kondisi menjelang krisis 1997–1998.
Denial terhadap masalah ekonomi, kecenderungan menyalahkan pihak luar, pelemahan institusi independen seperti bank sentral dan lembaga audit, ekspansi fiskal tanpa disiplin pada sisi pendapatan serta proyek-proyek prestisius yang dijalankan tanpa analisis kelayakan yang ketat.
Namun ia juga menunjuk perbedaan penting.
Saat ini Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang relatif aman, sistem perbankan yang jauh lebih sehat berkat reformasi pasca-krisis, dan rezim nilai tukar mengambang yang membantu menyerap guncangan.
Buffer-buffer ini bukan jaminan kekebalan melainkan memberikan waktu yang kini sedang terpakai, bukan dimanfaatkan untuk berbenah.
Prof. Ikhsan menjabarkan historis dari tiga kepemimpinan pasca-Orde Baru.
Universitas Harkat Negeri
Universitas Harkat Negeri Tegal
Rektor Universitas Harkat Negeri
Berita Universitas Harkat Negeri
Tribunjateng.com
aditri
| Universitas Harkat Negeri Lantik Pejabat Baru, Perkuat Langkah Menuju Kampus Berdaya Saing Global |
|
|---|
| Dosen Manajemen Harkat Negeri Bagikan Solusi Bagi Siswa SMK Hadapi Tantangan Dunia Kerja |
|
|---|
| Harkat Negeri Terima Studi Tiru Politeknik Bina Trada Semarang, Bahas Strategi PMB Inovatif |
|
|---|
| Rektor Harkat Negeri Soroti Krisis Integritas dan Masa Depan Demokrasi Indonesia di IFTK Ledalero |
|
|---|
| Harkat Negeri Jalin Kerja Sama dengan Hotel Tentrem Semarang, Bekali Mahasiswa Strategi Sukses PKL |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260626_seminar-UHN.jpg)