Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Universitas Harkat Negeri

Menakar Masa Depan Indonesia: Universitas Harkat Negeri dan Universitas Paramadina Gelar Diskusi

Universitas Harkat Negeri dan Universitas Paramadina mengadakan diskusi yang menjadi arena pertemuan dua arus pemikiran

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Seminar bertajuk “Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?” 

Pada lapisan kedua, tanda-tanda keluarnya investor asing sudah tampak sejak awal pemerintahan, tercermin dari pelemahan indeks saham dan nilai tukar rupiah.

Pada lapisan ketiga, makin dominannya peran negara dalam ekonomi menggerus peran korporasi swasta, masyarakat sipil, dan lembaga pengawas ibarat kursi empat kaki yang kehilangan satu kakinya.

Namun Sudirman Said menegaskan bahwa di balik semua itu, ada persoalan yang lebih fundamental: krisis kepercayaan.

“Kesenjangan antara otoritas dan legitimasi terus melebar karena tata kelola tidak mencerminkan integritas, meritokrasi, dan kapasitas yang memadai. Keputusan-keputusan besar dibuat tanpa proses deliberasi yang cukup, tanpa contestability of ideas, dan tanpa check and balance yang sehat,” tegas Sudirman Said.

Ia juga mengangkat dimensi yang bahkan lebih dalam yaitu fungsi negara sebagai instrumen membangun dan mendistribusikan kemakmuran tampak mengalami reduksi, bergeser menjadi instrumen elektoral untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Sudirman Said mengakhiri paparannya dengan seruan agar para sarjana Indonesia ratusan ribu orang yang dididik dengan investasi bangsa, di dalam maupun luar negeri tidak terus diabaikan di saat negara justru sangat membutuhkan suara-suara kritis mereka.

Selanjutnya, Prof. Moh. Ikhsan, Ph.D., ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, membuka paparannya.

“Indonesia belum berada di tepi jurang, namun pintu keluarnya sedang menutup. Sejarah tidak sedang diam ia sedang berbisik, dan bisikannya makin keras ” tuturnya.

Prof. Ikhsan membangunnya di atas rekaman historis yang rinci.

Menurutnya, sejumlah pola yang terlihat hari ini memiliki kemiripan mengkhawatirkan dengan kondisi menjelang krisis 1997–1998.

Denial terhadap masalah ekonomi, kecenderungan menyalahkan pihak luar, pelemahan institusi independen seperti bank sentral dan lembaga audit, ekspansi fiskal tanpa disiplin pada sisi pendapatan serta proyek-proyek prestisius yang dijalankan tanpa analisis kelayakan yang ketat.

Namun ia juga menunjuk perbedaan penting.

Saat ini Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang relatif aman, sistem perbankan yang jauh lebih sehat berkat reformasi pasca-krisis, dan rezim nilai tukar mengambang yang membantu menyerap guncangan.

Buffer-buffer ini bukan jaminan kekebalan melainkan memberikan waktu yang kini sedang terpakai, bukan dimanfaatkan untuk berbenah.

Prof. Ikhsan menjabarkan historis dari tiga kepemimpinan pasca-Orde Baru.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved