Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Aid, Kutu Buku Rembang Pencinta anime dan Sejarah Kritisi Mitos dalam Tafsir

Sosok wisudawan terbaik kerap identik dengan mahasiswa yang disiplin belajar setiap hari dan penuh target akademik sejak awal kuliah

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Mohammad Jahid Mahasiswa lulusan Program Studi S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), dalam prosesi Wisuda Periode Mei 2026 UIN Walisongo Semarang yang digelar Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. 

Ketertarikannya lahir dari kegemarannya membaca kitab tafsir dan sejarah agama.

Saat menelusuri salah satu karya tafsir klasik, ia menemukan klaim menarik: kisah ikan Nun dalam tafsir tertentu dianggap sebagai cerita mitologis buatan tradisi Yahudi untuk mengelabui umat Islam.

Namun Aid merasa ada yang janggal.

“Naluri kritis saya langsung menyala. Ini tuduhan besar, tetapi saya merasa perlu melihat buktinya,” katanya.

Penelitiannya kemudian menemukan petunjuk penting dalam hadis sahih yang tercantum di kitab Sahih al-Bukhari.

Menurutnya, jejak historis kisah tersebut justru dapat dibaca melalui konteks relasi budaya dan pengetahuan antara tradisi Islam dan Yahudi pada masa awal Islam.

Temuan itu, bagi Aid, membuka ruang baru untuk membaca tafsir secara lebih kritis sekaligus historis.

Kutu Buku, Wibu, dan Pecinta Literasi

Berbeda dengan stereotip mahasiswa berprestasi yang identik dengan jadwal belajar superketat, Aid mengaku nyaris tidak “belajar” dalam pengertian konvensional.

Ia lebih banyak memaksimalkan waktu kuliah untuk menyerap diskusi dosen, lalu melanjutkan proses belajar melalui aktivitas membaca buku, menonton film, anime, mendengarkan musik, hingga menekuni sejarah dan budaya populer.

“Saya lebih menikmati tugas sebagai saluran karya, bukan beban,” katanya.

Di tengah aktivitas akademik, Aid aktif di organisasi pers mahasiswa LPM IDEA.

Di sana ia menemukan ruang yang mempertemukannya dengan dunia literasi dan kepenulisan, bahkan sempat dipercaya menjadi kepala divisi sastra.

Baginya, organisasi tidak selalu menurunkan IPK—asalkan mahasiswa tetap memahami prioritas utama.

“Pilih organisasi yang sehat, jangan berlebihan berkecimpung di dalamnya, dan tetap tahu bahwa kuliah ya kuliah itu sendiri,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved