Kamis, 4 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Aid, Kutu Buku Rembang Pencinta anime dan Sejarah Kritisi Mitos dalam Tafsir

Sosok wisudawan terbaik kerap identik dengan mahasiswa yang disiplin belajar setiap hari dan penuh target akademik sejak awal kuliah

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Mohammad Jahid Mahasiswa lulusan Program Studi S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), dalam prosesi Wisuda Periode Mei 2026 UIN Walisongo Semarang yang digelar Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. 

Sarjana dari Lingkungan Pesantren Pesisir

Aid tumbuh di lingkungan pesantren pesisir Sarang, wilayah yang dikenal kuat dengan tradisi keilmuan Islam.

Sang ibu, yang pernah menjadi guru sekolah, memperkenalkannya pada buku cerita dan komik sejak kecil.

Dari situlah kecintaannya terhadap bacaan tumbuh. Sementara ayahnya menanamkan pendidikan agama sekaligus kebiasaan berpikir kritis terhadap realitas sosial.

“Pengetahuan adalah candu bagi saya untuk mengenyangkan rasa penasaran,” katanya.

Meski mengaku tidak memiliki tantangan besar selama kuliah karena menikmati seluruh proses belajar, Aid tetap menyebut orang tua sebagai penyemangat utamanya.

“Pada akhirnya, saya sadar orang tua saya lah yang menunggu kesuksesan anaknya ini,” tuturnya.

Dari Anime ke Kehidupan Nyata

Di balik citra serius seorang mahasiswa tafsir, Aid ternyata menyimpan sisi unik: ia banyak terinspirasi dari tokoh-tokoh anime dan film.

Bahkan ketika diminta memberi pesan kepada mahasiswa yang lebih muda, ia mengutip karakter dari anime Frieren.

“Buatlah jalan kalian sendiri dan jangan tergoncang oleh apa pun yang menghalangi. Ingat kata Frieren, ‘Karena pahlawan Himmel akan melakukannya’.”

Setelah wisuda, Aid berencana lebih dulu terjun ke dunia kerja sebelum melanjutkan studi magister.

Namun satu hal tampaknya tidak berubah: kecintaannya pada pengetahuan dan literasi. Bagi Aid, gelar wisudawan terbaik mungkin memang bisa diukur dengan angka.

Namun ia memilih memaknainya dengan cara lain: sebagai kumpulan pengetahuan, rasa ingin tahu, dan perjalanan panjang yang membentuk dirinya.

“Kalau boleh meromantisasi,” ujarnya sambil tersenyum, “Angka itu adalah himpunan pengetahuan yang terkumpul dalam diri mahasiswa.” (***)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved