UIN Walisongo Semarang
Amelia Kuliah sambil Kerja hingga Subuh, Jadi Wisudawan Terbaik di UIN Walisongo
Tidak semua wisudawan terbaik lahir dari rasa percaya diri tinggi atau target besar sejak awal kuliah.
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Ritme itu ia jalani hampir setiap hari selama tujuh semester. Tugas kuliah dikerjakan di sela-sela pekerjaan, bahkan sering kali selepas pulang kerja hingga waktu subuh demi mengejar tenggat.
“Kalau tugas menumpuk, saya sering mengerjakan sampai subuh. Untuk skripsi juga banyak saya kerjakan malam hari setelah pulang kerja,” tuturnya.
Menariknya, di tengah jadwal yang padat, Amelia tetap menjaga performa akademik. Ia mengaku tidak pernah punya prestasi yang terlalu menonjol di kelas, tetapi berhasil menjaga indeks prestasi di atas 3,8.
Ada kebiasaan unik yang ia lakukan sejak semester awal: duduk di kursi paling depan, bahkan tepat di hadapan dosen. Bukan untuk terlihat pintar, tetapi agar lebih berani bertanya.
“Saya sengaja duduk di depan supaya tidak malu bertanya atau menjawab pertanyaan. Kuncinya menurut saya bukan hafalan, tapi paham,” katanya.
Kemenarikan Amelia tidak berhenti pada perjuangannya membagi waktu. Skripsinya juga mengangkat tema yang tidak biasa.
Berjudul “Tradisi Barikan dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam (Studi Etnografi Tradisi Barikan Masyarakat Kejawen Desa Giling, Pati)”, penelitian Amelia membedah tradisi lokal masyarakat Kejawen melalui pendekatan pendidikan Islam.
Ketertarikannya pada budaya dan sejarah menjadi alasan utama memilih tema tersebut.
Temuan penelitiannya menunjukkan bahwa tradisi Barikan ternyata menyimpan banyak nilai pendidikan Islam, mulai dari tujuan, metode, media pembelajaran, hingga nilai religius dan sosial.
Tradisi itu juga menjadi ruang belajar sosial masyarakat karena mengandung semangat kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, dan doa bersama.
“Tradisi Barikan mengalami proses islamisasi tanpa menghilangkan budaya yang sudah ada,” jelasnya.
Penelitian itu sekaligus menjadi implementasi nyata konsep Unity of Sciences yang diusung UIN Walisongo—menghubungkan budaya, nilai sosial, dan pendidikan Islam dalam satu kajian yang utuh.
Jika diminta menyebut pengalaman paling membekas selama kuliah, Amelia tidak langsung bicara soal kelas atau nilai akademik.
Ia justru mengenang kisah-kisah kecil tentang persahabatan.
Salah satu yang paling membekas adalah ketika ia pernah tidak memiliki uang, sementara temannya juga sedang kesulitan ekonomi.
| Laya Lia, Anak Petani Lereng Gunung, Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Lewat Riset Adas |
|
|---|
| Anggita Bangkit Dari Perjuangan Jadi Wisudawan Terbaik Magister KPI Sambil Menjaga Budaya |
|
|---|
| Nabih Dua Kali Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Lewat Konsistensi Dan Diskusi Tafsir |
|
|---|
| Siti Nur Aisyah, Anak Petani Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Berprestasi Internasional |
|
|---|
| Mita Putri Apriliani dari Tata Boga Papua Barat Jadi Wisudawan Terbaik Moderasi di UIN Walisongo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260528_uinws492725565.jpg)