UIN Walisongo Semarang
Amelia Kuliah sambil Kerja hingga Subuh, Jadi Wisudawan Terbaik di UIN Walisongo
Tidak semua wisudawan terbaik lahir dari rasa percaya diri tinggi atau target besar sejak awal kuliah.
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Namun temannya tetap berbagi satu bungkus mi instan dan sebagian sayur.
“Dari situ saya benar-benar belajar arti keikhlasan,” katanya.
Ada pula kisah lain yang tak kalah membekas. Seorang teman pernah rela semalaman tidak tidur untuk merawat Amelia yang sakit tifus akibat kelelahan menjalani kuliah, organisasi, dan pekerjaan secara bersamaan.
“Dia menjaga saya semalaman, memijat dan mengompres saya padahal besoknya harus kuliah dan presentasi. Sampai sekarang kami masih berteman,” ujarnya haru.
Meski sempat aktif di LPM EDUKASI, komunitas Kopi Perubahan, dan organisasi daerah mahasiswa Pati, Amelia akhirnya memilih mengurangi aktivitas organisasi karena keterbatasan waktu.
Namun baginya, organisasi tidak pernah menjadi musuh prestasi akademik. Yang terpenting adalah keberanian untuk terus bertanya, berdiskusi, dan percaya diri tampil di ruang publik—sesuatu yang justru ia sesali belum cukup ia lakukan selama kuliah.
“Kalau bisa kembali ke masa mahasiswa baru, saya ingin lebih percaya diri tampil di publik,” katanya.
Untuk adik tingkat, Amelia punya pesan yang lugas: jangan pesimis, jangan terlalu terdistraksi urusan percintaan, dan tetap fokus pada tujuan.
Ia bahkan memiliki mantra pribadi yang sederhana namun kuat: If I want it, I get it.
“Memang terdengar obsesif, tapi itu membakar semangat saya. Tentu tetap harus di jalan yang benar,” ujarnya sambil tersenyum.
Kini, setelah lulus, Amelia tengah mencari peluang kerja baru di kawasan Tembalang sambil tetap menyimpan mimpi melanjutkan studi magister jika rezeki memungkinkan.
Di akhir percakapan, Amelia menyampaikan satu hal yang terasa sederhana tetapi tulus: kebanggaannya terhadap almamater.
“Saat teman-teman malu memakai almamater hijau neon, saya justru bangga,” katanya.
Kisah Amelia Fitriana menunjukkan bahwa wisudawan terbaik tidak selalu lahir dari mereka yang merasa paling hebat.
Kadang, ia tumbuh dari mahasiswa pekerja yang tidur menjelang subuh, bertahan di tengah keterbatasan, dan percaya bahwa usaha kecil yang dilakukan setiap hari pada akhirnya akan menemukan jalannya menuju kebanggaan.(***)
| Laya Lia, Anak Petani Lereng Gunung, Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Lewat Riset Adas |
|
|---|
| Anggita Bangkit Dari Perjuangan Jadi Wisudawan Terbaik Magister KPI Sambil Menjaga Budaya |
|
|---|
| Nabih Dua Kali Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Lewat Konsistensi Dan Diskusi Tafsir |
|
|---|
| Siti Nur Aisyah, Anak Petani Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo Berprestasi Internasional |
|
|---|
| Mita Putri Apriliani dari Tata Boga Papua Barat Jadi Wisudawan Terbaik Moderasi di UIN Walisongo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260528_uinws492725565.jpg)