READERS NOTE
Kritik Pemikiran Prof DR Mahfud MD Perspektif Maqashid Syariah
MARHABAN Ya Ramadhan tahun 2026. Saya menemukan kliping tulisan berkualitas “Tuhan Itu Sama”, oleh Prof Dr Mahfud MD”
Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan
Kritik Pemikiran Prof DR Mahfud MD
Perspektif Maqashid Syariah
DR KH Nasrulloh Afandi, Lc, MA
Doktor Maqashid Syariah Summa Cum laude Universitas al-Qurawiyin Maroko. Direktur Institut Maqashid Syariah Indonesia
Pengasuh Pesantren Balekambang Jepara Jateng
Ketua Pimpinan Pusat Pergunu
MARHABAN Ya Ramadhan tahun 2026. Saya menemukan kliping tulisan berkualitas “Tuhan Itu Sama”, oleh Prof Dr Mahfud MD” (Koran Sindo, Ramadhan,13/07/2013). Guru besar konstitusi yang juga pernah jadi cawapres RI itu menegaskan "Keberatannya jika aktivitas politik selama Ramadhan ditunda, karena politik juga bisa menjadi ibadah".
Opini tersebut betul, namun kurang mengena. Ia sepihak dengan tidak melihat aspek-aspek lain yang berkaitan dengan autentisitas ibadah. Bahkan jauh sebelum ada opini Mahfud MD tersebut, realitas di ruang publik pun, marak politisi yang justru meningkatkan aktivitas politisnya saat bulan Ramadhan, dianggap sebagai momentum politik paling strategis, harus bendung.
Merespon opini dan fenomena tersebut, mengacu pada orientasi dan autentisitas ibadah, utamanya konteks ibadah puasa Ramadhan, perlu disampaikan analisa perspektif maqashid syariah, sebagai berikut:
Ramadhan Momentum Politik
Untuk pengantar wawasan, kita menengok Ramadhan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Memang selain momentum diturunkanya Al-Qur’an, juga terjadi banyak tragedi-tragedi politik berskala besar, tidak hanya sebatas manuver di atas meja diplomasi, tetapi politik fisik, bahkan pertumpahan darah di medan peperangan.
Perang Badar adalah tragedi politik paling besar yang terjadi di bulan Ramadhan pada jaman Nabi Muhammad, juga penaklukan kota Makkah. Termasuk persiapan perang Chondaq terjadi saat Ramadhan meskipun perangnya meletus pada bulan Syawal, selepas Ramadhan. Dan masih banyak berbagai peristiwa politik di bulan(Ramadhan) Yang umat Nabi Muhammad SAW era sekarang diperintahkan untuk selalu menahan diri dan bersabar ini.
Kenapa berperang di bulan Ramadhan? Hal perlu ditekankan adalah, di masa itu, meski di bulan Ramadhan, yang terjadi bermusuhan antara orang Mukmin pendukung Nabi Muhammad SAW, dan orang-orang kafir (Harbi) yang membabi buta memerangi, memusuhi dan ingin membinasakan agama Islam, membantai nyawa-nyawa orang Islam. Jadi adalah kewajiban orang Islam melakukan perlawanan ketika itu.
Untuk tepat sasaran dalam mengkaji tragedi tersebut, kita analisis opini Imam Asy-Syatibi, sang bapak maqhosid syariah, dalam kitab babon ilmu Maqashid syariah, berjudul: Unwanu at-ta’rif bi asrori at-taklif yang lebih dikenal dengan nama kitab al-Muwafaqot, magnum opus-nya. Hal itu adalah bagian dari dhorurotu al-khoms (lima asas pokok yang wajib dipertahankan) yaitu; pertama, hifduzu ad-din (menjaga agama) kedua; hifdzu an-nafs (menjaga jiwa) ketiga; hifdzu an-nasl (menjaga nasab) keempat; hifdzu aql (menjaga akal) kelima; hifdzu al-mal (menjaga harta)
Alhasil, terkait tragedi peperangan di masa Nabi Muhamad tersebut, terdapat dua unsur yang mewajibkan berperang, meskipun saat itu kondisi bulan Ramadhan. Pertama, unsur hifduzu ad-din (menjaga agama) dan kedua; unsur hifdzu an-nafs (menjaga jiwa).
Manuver Politik dan Ramadhan
Bagaimana politik di Indonesia sekarang? Relevansinya dengan politik sekarang dalam konteks keutamaan puasa Ramadhan. Untuk di Indonesia, publik pun paham, para politisi dominan memperebutkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan keluarga masing-masing, maksimal hanya untuk golongan, parpolnnya.
Juga berhadapan dengan sesama orang Islam, sama-sama sedang berpuasa Ramadhan pula. Perspektif fikih, para perebut kekuasaan pun di negeri ini, mayoritas –dimaksud tidak semuanya— saat bermain di gelanggang melanggar norma agama, identik dengan “jurus busuk”, janji-janji palsu, kebohongan publik, bahkan mayoritas mengamalkan jurus machiavellianisme alias politik menghalalkan segala cara, jelas dilarang oleh Islam, meski ada politisi yang jujur tapi sangat sedikit.
Bermanuver politik di bulan Ramadhan, Kasusnya rawan dengan faktor-faktor yang menggerogoti kualitas dan autentisitas ibadah (Puasa) seperti menggunjing, bersilat lidah, berburuk sangka, dan lainnya, tak jarang pula yang secara langsung bermain fisik, atau sebatas mengerahkan masa untuk bermain fisik. Kondisi semacam itu, jelas tidak mendukung untuk bisa meraih kesempurnaan beribadah puasa. Analisis ilmu mantiq: ”Di tengah kobaran api akan terbakar”. Sang aktor politisi yang amanah, jujur dan bijaksana pun, ketika sedang bermain di gelanggang, gempuran manuver lawan–lawannya, sering mengakibatkan “si jujur” terpancing dan membuatnya mengadakan serangan balik dengan cara “kasar” pula.
Di sinilah akar masalahnya. Atau meminjam penjelasan detail Syeikh Ahmad Muhammad Az-Zarqo, dalam kitab kaidah fikihnya yang sering dikutip oleh para tokoh NU: Daf ‘u al-mafasid aula min jalbi al-masholich (Menjauhi sesuatu yang jelas berakibat kerusakan itu lebih didahulukan, daripada melakukan sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kebaikan).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/KH-NASRULLOH-AFANDI-PESANTREN-BALEKAMBANG-JEPARA.jpg)