Jumat, 12 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Numerasi Bukan Sekadar Menghafal Rumus

Angka TKA memberi pesan penting bahwa pembelajaran matematika di SD perlu ditinjau kembali, terutama dalam cara kita membangun kemampuan bernalar

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Dewi Nur Laksmi Astutiningtyas SPd MPd, Guru SDN 4 Banyuringin Kendal dan Fasilitator Tanoto Foundation 

Pembelajaran kemudian dapat dilanjutkan dengan soal-soal numerasi yang kontekstual. Misalnya, siswa diminta menentukan bagian pizza yang dibagikan kepada beberapa anggota keluarga, menghitung bagian kue yang tersisa setelah dibagikan kepada teman, atau membandingkan beberapa bagian makanan yang tampak berbeda bentuk. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengetahui simbol pecahan, tetapi juga mampu menggunakan konsep tersebut dalam situasi yang beragam.

Melalui pendekatan seperti ini, pembelajaran matematika tidak lagi berpusat pada hafalan rumus, tetapi pada proses membangun pemahaman. Siswa belajar menghubungkan pengalaman nyata dengan konsep abstrak secara bertahap. Mereka tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami alasan mengapa suatu prosedur digunakan. Inilah inti dari numerasi yang sesungguhnya.

Tentu saja, perubahan cara belajar tidak selalu mudah dilakukan. Guru berhadapan dengan target kurikulum, keterbatasan waktu, keragaman kemampuan siswa, serta tuntutan administrasi pembelajaran. Namun, perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Langkah sederhana seperti menunda pemberian rumus di awal pembelajaran, memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba, serta mengajak mereka menggambarkan dan menjelaskan proses berpikirnya dapat menjadi awal yang penting.

Pada akhirnya, hasil TKA perlu dibaca sebagai ajakan untuk memperbaiki cara anak belajar matematika sejak sekolah dasar. Numerasi tidak akan tumbuh kuat jika matematika hanya diajarkan sebagai kumpulan rumus. Anak perlu mengalami, melihat pola, menggambarkan, berdiskusi, lalu menemukan makna di balik simbol. Dari proses itulah matematika menjadi alat berpikir, bukan sekadar pelajaran yang menakutkan.

Pendidikan yang bermakna bukanlah pendidikan yang membuat siswa cepat mengingat rumus, melainkan pendidikan yang membantu mereka memahami makna di balik setiap konsep dan menggunakannya secara bijaksana dalam kehidupan nyata. Ketika siswa belajar melalui pengalaman, visualisasi, dan pemaknaan yang bertahap, matematika akan kembali pada hakikatnya, yakni alat berpikir yang membantu manusia memahami dunia dan mengambil keputusan dengan lebih baik. (*)

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved