Opini
Numerasi Bukan Sekadar Menghafal Rumus
Angka TKA memberi pesan penting bahwa pembelajaran matematika di SD perlu ditinjau kembali, terutama dalam cara kita membangun kemampuan bernalar
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Pembelajaran kemudian dapat dilanjutkan dengan soal-soal numerasi yang kontekstual. Misalnya, siswa diminta menentukan bagian pizza yang dibagikan kepada beberapa anggota keluarga, menghitung bagian kue yang tersisa setelah dibagikan kepada teman, atau membandingkan beberapa bagian makanan yang tampak berbeda bentuk. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengetahui simbol pecahan, tetapi juga mampu menggunakan konsep tersebut dalam situasi yang beragam.
Melalui pendekatan seperti ini, pembelajaran matematika tidak lagi berpusat pada hafalan rumus, tetapi pada proses membangun pemahaman. Siswa belajar menghubungkan pengalaman nyata dengan konsep abstrak secara bertahap. Mereka tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami alasan mengapa suatu prosedur digunakan. Inilah inti dari numerasi yang sesungguhnya.
Tentu saja, perubahan cara belajar tidak selalu mudah dilakukan. Guru berhadapan dengan target kurikulum, keterbatasan waktu, keragaman kemampuan siswa, serta tuntutan administrasi pembelajaran. Namun, perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Langkah sederhana seperti menunda pemberian rumus di awal pembelajaran, memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba, serta mengajak mereka menggambarkan dan menjelaskan proses berpikirnya dapat menjadi awal yang penting.
Pada akhirnya, hasil TKA perlu dibaca sebagai ajakan untuk memperbaiki cara anak belajar matematika sejak sekolah dasar. Numerasi tidak akan tumbuh kuat jika matematika hanya diajarkan sebagai kumpulan rumus. Anak perlu mengalami, melihat pola, menggambarkan, berdiskusi, lalu menemukan makna di balik simbol. Dari proses itulah matematika menjadi alat berpikir, bukan sekadar pelajaran yang menakutkan.
Pendidikan yang bermakna bukanlah pendidikan yang membuat siswa cepat mengingat rumus, melainkan pendidikan yang membantu mereka memahami makna di balik setiap konsep dan menggunakannya secara bijaksana dalam kehidupan nyata. Ketika siswa belajar melalui pengalaman, visualisasi, dan pemaknaan yang bertahap, matematika akan kembali pada hakikatnya, yakni alat berpikir yang membantu manusia memahami dunia dan mengambil keputusan dengan lebih baik. (*)
| Ikhwal Disertasi Bahlil dan Universitas yang Kehilangan Otoritas Akademiknya |
|
|---|
| Rob Sayung: Dampak dari Kebijakan yang Tidak Tepat |
|
|---|
| Kewajiban 20 JP bagi Dosen: Meningkatkan Kompetensi atau Menambah Beban Dosen PTS? |
|
|---|
| Kebijakan Penerimaan Mahasiswa Baru PTN dan Ancaman bagi Keberlangsungan PTS |
|
|---|
| Tidur di Jam Kerja atau Kerja di Jam Tidur? Paradoks Profesionalisme Modern |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260611_tanoto.jpg)