Rabu, 15 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Dari Malari hingga Medsos: Membaca Ulang Pola Pergerakan Massa Era Soeharto dan Prabowo

Dari Malari 1974, kerusuhan Mei 1998, hingga gejolak akhir Agustus 2025, ada benang merah, massa di jalan selalu jadi arena perebutan pengaruh. 

Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG/Budi Susanto
PRESIDEN PRABOWO DAN SOEHARTO - Ilustrasi Presiden Prabowo Subianto dan Mantan Presiden Soeharto. (DOK TRIBUNJATENG/BUDI SUSANTO) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -  Indonesia punya sejarah panjang demonstrasi yang kerap berujung benturan. 

Dari Malari 1974, kerusuhan Mei 1998, hingga gejolak akhir Agustus 2025, ada benang merah, massa di jalan selalu jadi arena perebutan pengaruh. 

Namun, cara mobilisasi dan pola kerumunan berubah drastis antara era Soeharto dan era Prabowo.

Selama lebih dari tiga dekade Orde Baru (1966–1998), rezim Soeharto menguasai penuh ruang publik.

Mobilisasi massa cenderung top-down, birokrasi, aparat desa, hingga organisasi masyarakat diarahkan mendukung kebijakan negara. 

Golkar jadi mesin politik utama yang menggerakkan pegawai negeri dan masyarakat desa di setiap pemilu.

Namun di luar jalur resmi, muncul perlawanan mahasiswa. Sejak 1970-an, kampus jadi episentrum demonstrasi. 

Peristiwa Malari (1974) menjadi simbol awal benturan.

Ribuan mahasiswa Jakarta menolak dominasi modal asing Jepang, tapi aksi berubah ricuh dan ditumpas.

Dikutip Tribun Jateng, Jumat (5/9/2025) dalam Sejarah Nasional Indonesia VI (Notosusanto & Lapian, 1984), Malari disebut sebagai titik balik, hubungan rezim dengan mahasiswa berubah dari semula terbuka menjadi represif. 

Pola aksi saat itu jelas, dimulai dari kampus, long march ke DPR/MPR atau Bundaran HI, dengan poster dan orasi lantang.

Aparat pun hampir selalu hadir, tak jarang dengan cara keras.

Menjelang runtuhnya Orde Baru, krisis 1997 memicu gelombang baru.

Buku Tragedi Jakarta Mei 1998 (Solidaritas Nusa Bangsa, 1999) mencatat pelajar SMA mulai terseret arus aksi mahasiswa. 

Komnas HAM dalam laporan Menyibak Tirai Gelap Reformasi (2002) bahkan menyebut ada “massa muda berseragam sekolah” di garis depan kerusuhan Mei.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved