Semarang
Menyusuri Rumah Blimbing Semarang, Jejak PKI yang Ditinggali Veteran
Dari luar, bangunan itu tak berbeda dengan deretan rumah tetangga lain sederhana, teduh, dan sepi.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Bangunan masih berdiri kokoh usai direvitalisasi beberapa tahun lalu, rumah sederhana didominasi warna krem itu di kawasan Jalan Blimbing, Semarang.
Dari luar, bangunan itu tak berbeda dengan deretan rumah tetangga lain sederhana, teduh, dan sepi.
Rumah sederhana itu saat ini menjadi markas Ranting 4 Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Semarang dan ditinggali oleh Kapten CPM (Purnawiran) Sanjoto.
Namun dahulunya pernah menjadi Markas PKI Semarang partai politik yang pada masanya begitu perkasa, lalu lenyap seketika pasca 1965.
Baca juga: Update Jalan Ditutup di Wonosobo Karena Longsor, Petugas Gabungan Diterjunkan
Baca juga: Pemkot Semarang Usul Raperda Penyelenggaraan Pendidikan
Tsabit Azinar Ahmad, sejarawan Universitas Negeri Semarang (Unnes), menyebut rumah di Blimbing itu pernah disebut sebagai pusat aktivitas PKI.
Tidak banyak yang tahu, Kota Semarang pernah menjadi rahim lahirnya Partai Komunis Indonesia (PKI).
Kota pelabuhan yang ramai dengan lalu lintas perdagangan ini bukan hanya tempat lalu lalang barang dan manusia, tapi juga ide-ide baru yang radikal pada zamannya.
“Ketua pertama PKI itu kan Semaun. Nah, dia juga sekaligus ketua Syarikat Islam di Semarang. Jadi memang awal mula dekat sekali hubungan SI dengan komunisme, khususnya di kota ini,” jelas Tsabit.
Beda dengan Syarikat Islam di Solo yang basisnya pedagang atau di pedalaman Jawa yang digerakkan para penghulu, SI di Semarang justru dekat dengan kaum buruh.
Semaun, yang sempat bekerja di kereta api, aktif di VSTP (Serikat Buruh Kereta Api dan Trem). Dari situlah benih-benih radikalisme buruh berkembang.
“Gerakan SI di Semarang itu unik. Basisnya buruh, sehingga aksi yang paling sering muncul ya pemogokan. Inilah yang kemudian membuatnya lebih mudah bersentuhan dengan gagasan-gagasan komunisme yang diperkenalkan tokoh Belanda, Sneevliet,” papar Tsabit.
Kedekatan Semaun dengan Sneevliet di Surabaya berlanjut hingga Semarang, membuatnya aktif pula di ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging).
Pada masa itu, keanggotaan ganda masih lumrah. Jadi, seorang tokoh bisa sekaligus menjadi pengurus SI, aktivis buruh, sekaligus anggota ISDV.
SI Merah vs SI Putih
Situasi berubah pada 1920-an ketika SI pecah menjadi dua SI Putih yang lebih religius, dan SI Merah yang condong ke komunisme.
“Ada disiplin partai. Jadi orang harus memilih, tetap di SI atau di partai lain. Pecahnya itu di Semarang, walaupun keputusan resminya di Surabaya,” jelas Tsabit.
Di sinilah Semarang punya catatan penting lahirnya PKI yang kemudian menjelma partai besar di panggung politik nasional.
Bahkan, pada Pemilu 1955, PKI menjadi partai nomor satu di Semarang.
“Di pemilu daerah 1957, PKI tetap menang di Semarang dengan perolehan lebih dari 112 ribu suara. Jadi kalau di tingkat provinsi Jawa Tengah mungkin PNI unggul, tapi khusus di Kota Semarang, PKI itu nomor satu,” tutur Tsabit.
Selain gerakan buruh, Semarang juga menyumbang gagasan lewat pendidikan.
Gedung SI di Gendong Utara, yang didirikan Semaun sekitar 1918–1920, sempat menjadi pusat aktivitas.
Tan Malaka, tokoh besar pergerakan, juga pernah mengajar di sekolah SI ini.
“Dari sinilah lahir inspirasi bagi tokoh-tokoh pendidikan lain, termasuk Ki Hajar Dewantara,” tambah Tsabit.
Namun, sejarah PKI di Semarang juga diwarnai jatuh-bangun.
Setelah pemberontakan 1926–1927, PKI praktis lenyap.
Baru muncul lagi pasca 1945, tenggelam lagi setelah peristiwa Madiun 1948, lalu bangkit pada 1950-an di bawah Aidit.
Yang menarik, menurut Tsabit, konsolidasi awal Aidit juga dilakukan di Semarang.
Ada rapat raksasa dengan massa besar yang disebut mencapai ratusan ribu orang.
“Itu menegaskan Semarang sebagai salah satu basis PKI yang penting pada masa itu,” ucapnya.
Dia mengatakan bahwa dahulunya, Semarang juga melahirkan gerakan perempuan radikal.
Di kota inilah enam organisasi perempuan melebur menjadi Gerwis (kemudian Gerwani).
Meski status kedekatannya dengan PKI masih kontroversial, jejak sejarahnya tak bisa dihapus.
Bahkan, dalam Pertempuran 5 Hari di Semarang tahun 1945, unsur gerakan kiri juga ikut ambil bagian lewat AKOMA (Angkatan Komunis Muda).
Meski sempat meraih kejayaan, PKI di Semarang runtuh seperti membalik telapak tangan setelah peristiwa 1965.
Basis massa yang tadinya solid mendadak hilang. Papan nama, kantor, dan atribut PKI dilenyapkan.
“Dulu gemilang, sekarang kalau ditanya di mana kantor PKI Semarang ya susah melacaknya. Ada yang menyebut di Jalan Blimbing, tapi kini bangunannya ditempati seorang veteran,” ungkap Tsabit.
Yang menarik, menurutnya, masyarakat Indonesia termasuk Semarang sebenarnya tidak terlalu ideologis dalam memilih partai.
“Jadi dukungan ke PKI itu lebih karena faktor sosial, kedekatan dengan isu buruh, atau janji-janji kesejahteraan. Begitu arus politik berubah, dukungan itu hilang total,” ujarnya.
Kini, warisan SI dan PKI di Semarang tinggal jejak-jejak kecil gedung SI di Gendong Utara, arsip-arsip lama, dan cerita dari para veteran. (Rad)
| Update Kebakaran Gudang Kayu KIC Semarang: 2 Forklift dan Wheel Loader Ikut Terbakar |
|
|---|
| Halte BRT Semarang Diseruduk Pikap, Kini Tak Bisa Digunakan Sementara |
|
|---|
| Pertumbuhan Bisnis dan Mobilitas Warga Dorong Pemanfaatan Videotron di Semarang |
|
|---|
| Tiga Lapak PKL Liar dan Area Parkir Tak Berizin di Samping The Park Mall Dibongkar |
|
|---|
| Dua Mata Pisau Influencer Berdampak ke Pariwisata Kota Semarang, Akurasi Konten Jadi Sorotan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/202509_Rumah-Veteran-di-Semarang.jpg)